Cerita Kelahiran Sekar : Part 3

Mari kita lanjutkan, dan semoga ini part terakhir, hahahaha.

Setelah ngeden tiga kali, putri pertama saya pun lahir ke dunia. Saya mendengar tangisannya yang kencang sekali pada pagi itu. Reaksi pertama saya: legaaaaaaaaa. Legaaaaaa banget karena dalam satu detik seluruh rasa sakit kontraksi itu hilang. Hilang blassss ketika bayi sudah keluar. Kata pertama yang saya ucapkan adalah “Alhamdulillah”. Saya nggak nangis dan merasa terharu atau apa, murni hanya perasaan lega karena perjuangan selesai, rasa sakit sirna sudah. Tapiiiiiiiiiiiii…tet tot! Ternyata saya salah.

Nggak lama setelah lahir, setelah tali pusat dipotong, Sekar langsung di bawa oleh salah satu bidan ke ruangan melahirkan untuk dibersihkan. Sedangkan bidan satu lagi, melakukan tindakan pembersihan rahim. Dan ternyataaaaaaa itu sakit! Awalnya sih sakit nya nggak seberapa ya, perut saya diteken teken. Tapi nggak lama dokter kandungan saya, Dr Nina Afiani, datang. Beliau pun minta maaf karena terlambat, dan mengambil alih proses.

Nah, menurut beliau, pembersihan rahim oleh bidan belum sempurna, dan kalau tidak bersih ada kemungkinan pendarahan. Jadi beliau membersihkannya dengan….mengobok-obok rahim sayah! Luar biasa itu rasanya, hahahaha. Dan setelah akhirnya sesi obok-obok selesai, saya kira penderitaan saya berakhir, tapi ternyata sekali lagi saya salah. Masih ada penderitaan lanjutan yaitu: dijait!

Jadi setelah rahim saya dianggap sudah bersih, si dokter mau melakukan sesi jahit menjahit. Tapi tidak bisa dilakukan di dalam ruang perawatan. Entah karena panik atau heboh dll, yang harusnya mah saya dipindah ke bed antar, saya malah disuruh pindah naik kursi roda. Tapi pada saat itu saya iyain aja sih. Toh kan udah ga sakit kontraksi lagi, jadi udah bisa turun pelan-pelan ke kursi dan pindah ke ruang lahiran untuk dijahit.

Jadi, bagaimana rasanya dijahit? LUAR BIASAAAAA! Mungkin karena selama satu setengah jam terakhir sebelum Sekar lahir saya sibuk ngeden tanpa kontrol, miring kanan kiri angkat pantat dan segala hal yang dilarang, ditambah kepala sekar tiba-tiba udah nongol di bawah tanpa sempat ada pengguntingan resmi dari dokter/bidan, robekan saya itu udah ga bisa dideskripsikan. Hahahaha. Pokoknya si dokter ngobras nya lamaaaaaaaaaaaaa banget. Ada kali hampir satu jam. Dan selama hampir satu jam itu pula saya teriak-teriak Allahu Akbar.

Masih teringat rasanya di bawah sana, persis ketika sedang menjahit baju. Ketika jarum yang kita pegang sudah menembus kain, dan kita menarik jarum tinggi-tinggi untuk menarik benang. Persis seperti itu rasanya kulit saya di bawah sana ketika benang itu ditarik. BEUGH. SAKIT GILAAAAA. Dan itu rasanya lama bangeeett yeeee. Saya sampai nanya setengah marah ke dokter “Dokter ini kapan selesainya?” Dan si dokter jawab “Nanti saya bilang kalau sudah selesai saja ya Bu”. Saking dia sendiri ga tau kayaknya selesenya kapan, hahaha.

Yang lucu adalah, pada saat itu, keluarga kami belum ada yang tau kalau saya sudah melahirkan. Mama dan kembaran datang sekitar setengah enam langsung kaget waktu tahu saya sudah lahiran. Semua nggak ada yang memprediksi saya lahiran secepat itu. Pas mereka datang saya lagi mulai diobras, dan mereka sibuk sama bayi dong, saya yang berjuang dilupain -_____-“

Untungnya nggak lama Dokter mengarahkan ke suster agar dimulai proses IMD, sambil saya dijahit. Walaupun nggak murni IMD banget sih, karena Sekar udah pake baju singlet biar ga kedinginan, plus nyusunya langsung dimasukin ke puting, nggak nunggu dia dapet sendiri. Tapi proses mulai nyusu pertama, dan alhamdulillah langsung pinter nyusunya, lumayan membuat lupa rasa sakit dijahit. Walaupun yaaaa, tetep aja jerit-jerit, tapi seenggaknya jerit sambil liat bayi lucu yang lahap menyusu lumayan membantu. FYI aja yah, pada saat saya kontrol jahitan dengan dokter, saya tanya berapa total jahitan saya di bawah sana. Dan dokternya menjawab “Tiga puluh mah ada kali Bu” JENGJENG. Luar biasaaaaa… Pantesan lama banget, hahahaha.

Sebenernya proses melahirkannya sudah selesai, tapi ada satu tambahan yang ingin saya ceritakan. Beberapa jam setelah di kamar, kondisi saya masih lemas. Karena dokter bilang saya sempat mengeluarkan cukup banyak darah, dan harus selalu dipantau agar tidak terjadi pendarahan. Ada satu titik di mana saya merasa sangat lelah, namun ternyata infus saya bermasalah, kalau nggak salah infusnya mampet. Lalu ketika suster datang untuk melihat infus dan memperbaiki posisinya, saya yang memang sangat trauma dengan infus, seketika menangis kejer ketika infus saya diutak-atik suster.

Semua yang ada di ruangan saat itu panik. Suster kemudian bertanya “Kenapa Bu, Ibu ada sakit di mana?” memastikan apa yang sebenarnya terjadi dengan saya. Karena saat itu memang saya masih masa observasi pendarahan, belum lewat masa kritisnya pasca lahiran. Saat itu saya cuman bisa nengok lemah ke arah kiri, tempat suami saya duduk dan kurang lebih berkata “Aku cuman pengen nangis”. Dan sebagai suami yang sangat memahami istrinya, suami saya bilang ke suster “Nggak papa, dia cuman pengen nangis aja”. Sayapun sambil masih nangis kejer menjelaskan ke suster, mamah saya, serta ibu mertua yang ada dalam ruangan “Dari semalam belum nangis. Kan kata mamah nggak boleh nangis”. Dan lalu meneruskan nangis kejer kurang lebih 15 menit.

Ya, saya memang tidak nangis setetes pun selama proses melahirkan, sejak induksi tablet pertama dimasukan, sampai detik itu, ketika tiba-tiba saya meledak tangis “hanya” karena posisi infus saya dibenarkan. Saya, yang semua orang kenal pasti bilang cengeng, berhasil tidak menangis bahkan pada saat-saat tersakit sekalipun. Kenapa? Karena doktrin si mamah.

Mamah saya, tau betul anaknya cengeng secengeng-cengengnya. Dari jauh hari beliau selalu berkata “Nanti jangan nangis ya, kalau kamu nangis nanti nggak ada tenaga”, berulang-ulang. Dan entah bagaimana, seperti terpatri dalam otak saya. Saya benar-benar tidak menangis sedikitpun, tapiiiiiii efeknya adalah ketika ter”sentil” masalah infus, saya meledak. Hahahaha. Pada saat itu, masih dengan kondisi menangis sesenggukan, saya sempat merajuk sambil menyalahkan mama dan berkata “Mama sih, ngelarang nangis”. Dan si mamah pun cuman menanggapi dengan senyum awkward, hahahaha. Tapi dipikir-pikir, pesan orang tua itu pasti ada benarnya. Mungkin kalau saya nangis semalaman, tidak cukup hanya mengejan tiga kali untuk mengeluarkan Sekar. Mungkin bisa puluhan kali, bahkan mungkin saya sudah kehabisan tenaga. Hikmahnya adalah, saran orang tua itu emang pasti untuk kebaikan anaknya J

Yah, demikianlah cerita panjang kelahiran Sekar. Untuk catatan, suatu saat nanti kalau lupa bisa jadi pengingat lagi. Mulai dari mendadak induksi, bukaan 1 ke 10 yang hanya 1,5 jam, lahiran di kamar rawat, obrasan puluhan jahitan di bawah sana, hingga ditutup dengan drama ledakan tangisan.

Begitulah kisah kelahiran Sekar, yang lahir di RSIA DHIA pada pukul 04.45 WIB pada tanggal 24 Oktober 2014, dengan berat 3120 gram, dan panjang 46,5 cm. Saya bersyukur pada Allah SWT selama 2 tahun ini dikaruniai anak yang sehat dan cerdas. Semoga menjadi anak sholehah yang cinta kepada Allah SWT, cinta ayah-bunda, dan seluruh keluarga besarnya, Amien.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s