Perjalanan Menyapih Sekar: Part 1

Aaaahhh kenapa bayi itu cepet banget gedenya sihh?? Tiba-tiba udah mau disapih aja, hikshiks.. Sebagaimana ibu-ibu kekinian, saya juga cita-cita banget dong bisa berhasil menyapih dengan cinta, atau istilah kerennya weaning with love. Naaah, saya mau merekam perjalanan dan proses menyapih Sekar di sini. Apakah saya berhasil? Mari kita lihat saja, hahahaha…

Dari apa yang saya baca-baca di internet, menyapih itu bukan proses semalam. Maka mengikuti berbagai artikel yang saya baca, saya sudah mulai proses menyapih jauh jauh hari. Karena satu dan lain hal, saya dan suami bersepakat untuk menyapih di hari ulang tahun Sekar yang ke-2. Maka 6 bulan sebelumnya, di usia 18 bulan saya sudah mulai proses sounding tentang sapih ke Sekar.

Berdasarkan artikel di internet pula, saya tau kalau soundingnya harus spesifik. Anak kecil belum paham benar konsep apa itu ulang tahun, apa itu anak gede. Dari artikel yang saya baca umumnya menyarankan kegiatan spesifik seperti tiup lilin, sebagai acuan penanda agar anak lebih paham. Dan itu pula yang saya lakukan. Sejak usia 18 bulan, hampir setiap hari sebelum tidur, sambil nenen saya akan mengelus kepalanya sambil menatap mata Sekar dan berkata “Dek, nanti kalau ulang tahun, dede tiup lilin. Kalau sudah tiup lilin, berarti dede udah jadi anak gede. Kalau anak gede itu, nggak nenen ya, karena nenen itu untuk dedek bayi”.

Tiga bulan sebelum Sekar ulang tahun, saya dapat informasi baru bahwa menyapih nggak boleh mendadak berhenti total. Oleh karena itu saya coba bertahap dulu, dengan menyapih siang saat weekend ketika saya ada di rumah. Kalau weekday mah emang kan pasti nggak nenen karena saya nya ngantor. Lalu kalimat soundingnya pun ditambah dan lebih spesifik yaitu “Nanti tanggal 01 Oktober sudah mulai berhenti nenen siang, dan 24 oktober pas ulang tahun dan tiup lilin, udah nggak nenen sama sekali”.

01 Oktober 2016

Hari pertama menyapih siang ini berat, Jendral! Hahahaha. Berat ke saya, karena Sekar jadi sulit bobo siang -___________-“ padahal bobo siang weekend itu berharga BANGET buat saya. Saya sampe hampir nyerah bukan karena kasian sama anaknya, tapi kasian sama saya yang teler,hahahaha. Kepikiran di kepala “aduh kasih aja deh biar kita bisa bobo bareng berdua”, tapi alhamdulillah saya berhasil menang melawan diri saya sendiri *tebar confetti*

02 Oktober 2016

Berbekal pengalaman melelahkan menjalani hari tanpa tidur siang, saya curhat sama kembaran saya. Dan dia memberikan tips mujarab yaitu “quiet time”, di mana kita bilang sama anak kalau mau tidur. Kalau dia mau, ayo tidur bareng-bareng, tapi kalau nggak biarin aja main sendirian. Dan quiet time saya terapkan hari itu, alhamdulillah ya dapet bobo cantik setengah jam. Walaupun setelah setengah jam saya dibangunin sama Sekar, dan ujung-ujungnya ngegendong Sekar sampai bobo, dan lanjut kita bobo bareng.

03 Oktober s.d 23 Oktober 2016

Selama tiga mingguan ini, alhamdulillah bisa dibilang lancar. Kalau pagi hari bangun minta nenen, pasti langsung saya tanggapi dengan “Tuh lihat udah terang. Kalau sudah terang nggak nenen ya, nenennya nanti malam” alhamdulillah biasanya langsung lupa. Kalau di mobil perjalanan siang pun selalu disiasati dengan cemilan yang banyak, biar nggak ingat minta nenen. Weekend siang hari ketika saya di rumah pun alhamdulillah terbantu dengan quiet time. Biarin aja anaknya sibuk sendiri, bundanya bobo, hahahaha. Ujung-ujungnya kalau dia sudah sangat mengantuk akan bangunin saya, dan minta dipeluk atau tepuk-tepuk, alhamdulillah bobo sendiri.

Sempat ada satu insiden drama nangis agak kejer, karena pada hari minggu itu saya ada deadline email yang harus diselesaikan, dan Sekar nggak mau sama ayahnya. Tapi alhamdulillah selama total tiga minggu, yang parah pakai nangis sekali itu aja. Selama tiga minggu pula saya intens sekali sounding kalimat pengingat berhenti nenen, yaitu “Nanti tanggal 24 Oktober Sekar ulang tahun. Kalau ulang tahun, nanti Sekar tiup lilin. Kalau udah tiup lilin berarti udah anak gede. Anak gede itu nggak nenen. Karena nenen itu buat dedek bayi”. Saking seringnya, sampai Sekar hafal, hahahaha. Mudah-mudahan bukan hanya hafal teori, tapi juga prakteknya nanti ya…

Karena ceritanya panjang, lanjutannya di postingan berikutnya yaa.. 😉

One thought on “Perjalanan Menyapih Sekar: Part 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s