Cerita Toilet Training (3): Tips Sukses

Cerita Toilet Training sebelumnya bisa di baca di sini dan di sini ya.

Gaya banget ya judulnya. Bukan ngerasa expert atau gimana ya, tapi saya pribadi merasa bangga banget sama diri sendiri karena proses TT yang berlangsung cukup mudah, dan saya terlibat penuh di dalamnya. Ada beberapa hal yang menurut saya membantu banget dan berandil besar mensukseskan proses TT lancar kurang dari dua minggu. Saya coba share ya, siapa tau bisa berguna buat yang sedang atau akan TT:

  1. Sosialisasi

Buat saya, metode parenting sosialisasi itu penting banget. Dalam hal apapun, tidak hanya TT.  Anak kecil akan lebih mudah melakukan atau menghadapi sesuatu yang sudah diinformasikan sebelumnya. Metode sosialisasi tidak hanya saya gunakan di event-event penting kehidupan Sekar seperti menyapih dan TT, tapi juga ketika mau ke dokter, atau mau ke tempat-tempat baru (menjelang mudik, ke DuFan, ke Taman Safari dll).

Karena menurut saya penting bagi mereka memahami apa yang akan mereka hadapi. Bahkan terkadang sosialisasinya tidak hanya sebatas lisan, tapi juga dalam bentuk visual. Ketika akan ke Dufan saya perlihatkan video-video di youtube tentang istana boneka, komidi putar, bahkan sampai ke badut-badut Dufan. Biar lebih terasa real aja, apa yang akan dihadapi.

Dan sejauh ini saya merasa metode ini sangat efektif, terbukti pada saat sampai ke hari H event itu berlangsung, tidak pernah ada penolakan. Saat menyapih saya bahkan sosialisasi hampir setiap hari selama 6 bulan, dan langsung berhasil di hari pertama menyapih. Dan dalam kasus TT, sosialisasi saya berikan kurang lebih 3 bulan sebelumnya.

  1. Tentukan tanggal mulai

Tanggal mulai ini penting sebagai trigger ketika akan mengingatkan anak. Karena anak-anak belum paham konsep tanggal, maka dilahkan dimodifikasi ke konsep yang lebih kongkrit. Misalnya dalam kasus saya tanggal mulai yang kongkret adalah: pulang dari Jogja. Atau waktu dulu menyapih, konsep kongkritnya adalah: tiup lilin ulang tahun ke-2. Konsep kongkrit itu dipakai jadi dasar untuk mengingatkan pada hari H, misalnya: adek udah nggak pake pampers lagi ya, kan kita udah pulang dari Jogja. Buat saya poin ini penting dan satu paket sama poin yang pertama

  1. Kesiapan Mental

Kesiapan mental yang dimaksud di sini ibunya ya, bukan anaknya, hehehe. Ibu yang akan menjalani proses TT harus siap mental akan kecolongan alias ngompol. Namanya anak baru belajar, pasti nggak langsung berhasil. Jadi si ibu harus siap. Siap dalam arti secara emosi tidak akan terganggu pun bila si anak ngompol. Karena ketika ibu nya belum siap secara emosi, pasti akan dengan mudah kesal, marah, ketika kecolongan ngompol. Dan jika sang ibu malah bereaksi marah terhadap sang anak, menurut saya malah akan semakin mempersulit proses TT nya.

  1. Konsisten dan jangan menyerah

Konsisten ini terkait sama poin kesiapan mental sih. Jadi kalau ternyata prosesnya kurang mulus dan mengalami banyak kecolongan, tetep harus konsisten menjalani proses TT. Saya di dua hari pertama kecolongan ngompol samoai 7-8 kali, tapi alhamdulillah nggak menyerah tetep melanjutkan perjuangan, dan alhamdulillah hari ke-3 sudah menurun drastis jadi cuman 1 kali kecolongan. Jadi harus tetep semangat yaaa.

 

Kira-kira itu poin-poin penunjang keberhasilan saya TT kemarin. Mudah-mudahan bisa membantu ya J

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s