Selebriti Sosial Media: Sebuah Analisa sebagai Pengingat bagi Saya sebagai Orang Tua

Disclaimer: Tulisan ini adalah analisa receh saya sebagai manusia biasa, yang sangat mungkin melakukan kesalahan. Tulisan ini murni pendapat pribadi tanpa adanya tujuan negatif terhadap siapapun.

Ini pembahasannya di luar kebiasaan banget ya, hahahaha. Tapi berangkat dari keresahan (tsaelah bahasanya) akan fenomena belakangan ini, tiba-tiba jadi sok menganalisis di otak, ya sekalian aja lah ditulis di sini, nambah-nambahin jumlah postingan hahahaha.

Jadi begini, beberapa waktu yang lalu kan dunia maya Indonesia dihebohkan dengan Awkarin dan Gaga ya. Yang belom tau mereka siapa, boleh cek mbah google. Pada waktu itu ya, kesimpulan saya mengerucut pada: “ABG bandel pada jamannya, dari dulu udah ada kok. Tapi yang membedakan, saat ini generasi internet. Bandel bukan cuman konsumsi lingkaran pertemanan semata, tapi juga konsumsi satu dunia. Itu yang bikin pe-er menjadi orang tua semakin berat.”

Kesimpulan saya berhenti di situ. Hingga kemarin membaca postingan ini. Dan yang pertama terlintas di benak adalah, “Ini siapa lagi siihhh Rachel Vennya dan Niko??”. Nggak gaul banget ya gw? Atau lebih tepatnya, udah beneran berumur kali ya saya, sampai nggak catch-up dengan pasangan yang dianggap sebagai #relationshipgoals tersebut? Hahahaha. Lalu saya pun kepo dong, cari tau melalui mbah google tercinta, dan akhirnya mulai memahami mereka itu siapa.

Lalu kemudian pertanyaan yang selanjutnya jadi terlintas adalah, “Kok bisa sih orang-orang seperti ini bisa terkenal? Mereka ini siapa?” Dan tentunya pertanyaan ini gue diskusikan dengan partner in crime gw dalam pergunjingan, nicole (bukan nama aslinya).  Diskusi ini berujung pada kesimpulan gue bahwa kenapa mereka terkenal, kenapa banyak followersnya, kenapa banyak pemujanya, adalah karena mereka menampilkan kehidupan yang tidak bisa dimiliki oleh para follower. Impian memiliki kehidupan yang tidak semua orang dapatkan, itulah jualannya para selebriti media sosial.

Dan ternyata setelah saya telaah, ternyata saya juga termasuk loh sebagai bagian dari para pemuja yang memimpikan kehidupan orang lain! Walaupun tentu saja selebriti sosial media impian saya bukanlah Awkarin, Gaga, atau Rachel Vennya. Setiap akun Instagram (di luar akun olshop dan artis yang sudah terkenal) yang saya follow secara sadar, adalah selebriti sosial media impian saya.

Sebagai contoh, saya mem-follow akun @iburakarayi @stellasutjiadi @fennymasudah, yang sangat kreatif dalam bidang parenting, akun @tiyarahmatiya @xanderskitchen yang jago masak. Kenapa saya follow? Karena mereka punya kemampuan yang tidak saya miliki, yang saya kagumi. Senang sekali rasanya melihat bagaimana kreatifnya Mba Stella membuat berbagai permainan untuk anaknya, Daffa. Atau melihat bagaimana parenting skill Mba Iput sebagai ibu dengan dua anak, Raka dan Rayi. Dan tentunya saya hobi juga melihat berbagai jenis makanan hasil olahan Mba Tiya, serta hasil bakingan Ci Xanders.

Kalau melihat paragraf sebelumnya, rasanya tidak ada hal yang mengkhawatirkan ya, nampak wajar dan tidak salah punya selebriti sosial media impian. Memang wajar kok, tapiiii, justru di sini saya mau menjelaskan kenapa ada kata impian yang saya sisipkan. Alasan pertama jelas, karena kondisi saya (atau para followers) tidak memiliki hal-hal yang dimiliki para selebriti sosial media tersebut. Kedua, kondisi  tersebut memunculkan keinginan atau impian untuk memiliki hal yang sama. Dan ketiga, pada beberapa orang, impian tersebut diwujudkan dalam kenyataan. Kalau kembali lagi ke contoh yaitu diri saya sendiri, maka saya sudah sampai alasan ketiga. Karena suka melihat para selebriti sosial media, trus ingin juga memiliki kemampuan yang sama, mendorong saya membuat berbagai permainan kreatif untuk Sekar, maupun beberapa kali mengeksekusi resep makanan.

Lalu, berarti punya selebriti sosial media impian, hal yang positif dong? Nah, menjawab pertanyaan ini yang agak tricky. Jawabannya bisa iya, bisa tidak. Tergantung kepada, hal apa dalam kehidupan para selebriti sosial media tersebut yang kita impikan? Kalau selebriti sosial media impian saya mah, alhamdulillah rasanya yang positif semua kan ya. Mudah-mudahan, hahahaha. Namun kalau kembali ke nama-nama di awal, Awkarin, Gaga, Rachel Vennya, kita harus menganalisa kembali hal apa dalam kehidupan mereka yang diinginkan para dedek-dedek ABG tanggung?

Nah, kebetulan kalau untuk kasus mereka, menurut analisa pribadi saya dan jeung Nicole, rasanya hal-hal tersebut lebih banyak masuk ke kategori negatif. Kehidupan remaja yang kaya raya, bergelimpangan harta, travelling ke berbagai negara, gaya hubungan pacaran yang di luar norma umum, lingkaran pertemanan yang  bebas dari segi tindakan maupun ucapan, kebebasan dari pengawasan orang tua, dan dengan semua itu membuat mereka memiliki banyak followers dan pemuja, adalah hal-hal yang menjadi “jualan” mereka. Hal-hal tersebut yang membuat mereka dipuja, yang membuat mereka digemari.

Lalu apakah hal tersebut salah? Tidak. Bahwa mereka menjalani kehidupan yang diimpikan orang lain, tentu bukan salah mereka. Hak mereka memamerkan itu semua. Namun ada potensi berubah menjadi salah ketika para pemuja tersebut masuk ke alasan ketiga, yakni ketika impian tersebut diwujudkan dalam kenyataan.

Alhamdulillah yah, kalau ternyata Rachel Vennya bisa menginspirasi dedek ABG untuk berfikir “Wah, gue mau bikin bisnis olshop ah kayak Acel tuh keren banget abis kondisi keuangannya terpuruk, bisa sukses karena olshop obat pelangsing”. Namun akan jadi perlu perhatian lebih, ketika seorang dedek ABG tanggung berpikir “Gw mau PDA sama pacar gue ah, bodo amat kata orang. Awkarin aja keren banget bisa kayak gitu di mana-mana dan diposting, malah tambah banyak followersnya.” Atau “Ngapain lah gue belajar susah-susah. Cari contekan ujian juga ga bakal ketauan. Toh Awkarin ga mendadak dibatalin lulus SMA nya walaupun sedunia udah tau dia nyontek pas UN”. Atau “Biasa aja kali jaman sekarang ngomong anj**g, gak liat tuh si Awkarin yang ngomong macem-macem aja followersnya banyak”.

Ketika yang diimpikan dari para selebriti sosial media sampai bisa menggerakan para pemuja melakukan hal yang sama namun konteksnya negatif, di situlah titik yang merubah keseluruhan fenomena ini menjadi hal yang salah.

Analisa ini kemudian mengantarkan saya pada pengingat bagi diri saya sendiri sebagai orang tua. Yaitu pertama, kenalilah siapa idola anak kita, khususnya pada zaman ini adalah para selebriti sosial media.Haramlah hukumnya jadi orang tua yang gaptek sosmed di jaman seperti saat ini. Kalau mau tau langkah-langkah menjadi ibu jaman sekarang, panduan action plan nya ada di artikel nya Mbak Lei sang idolaku yang ini.

Kedua, pahami apa daya tarik para selebriti sosial media tersebut, apa yang anak kita impikan dari kehidupan mereka. Dan yang ketiga, berhati-hati dalam bereaksi terhadap informasi poin satu dan dua. Kalau hal yang diimpikan dari para selebriti sosial media arahnya positif, dukung mereka sepenuhnya agar bisa mencapai apa yang dimiliki oleh para selebriti sosial media tersebut. Namun kalau hal nya negatif, bantu beri pemahaman bahwa hal tersebut tidak baik, dan tidak perlu ditiru.

Gampang? TENTU TIDAAAAK. Hahahaha ketawa miris. Banyaaak yaaaa pe-er menjadi orang tua. Tapi berhubung saat ini selebriti impian Sekar baru sebatas Pororo dan Sherrif Callie, paling jauh ya Sekar mimpi mau naek kuda. Dan itu gampang lah bisa gue bantu dukung dengan dibawa ke Giant Bintaro, muterin Giant cuman 20 rebu. Jadi untuk saat ini, gue masih amaaaaan. Gak tau deh 10 tahun lagi. Hahahahahahaha.

 

Sekian. Cheers 😉