Perjalanan Menyapih Sekar: Part 1

Aaaahhh kenapa bayi itu cepet banget gedenya sihh?? Tiba-tiba udah mau disapih aja, hikshiks.. Sebagaimana ibu-ibu kekinian, saya juga cita-cita banget dong bisa berhasil menyapih dengan cinta, atau istilah kerennya weaning with love. Naaah, saya mau merekam perjalanan dan proses menyapih Sekar di sini. Apakah saya berhasil? Mari kita lihat saja, hahahaha…

Dari apa yang saya baca-baca di internet, menyapih itu bukan proses semalam. Maka mengikuti berbagai artikel yang saya baca, saya sudah mulai proses menyapih jauh jauh hari. Karena satu dan lain hal, saya dan suami bersepakat untuk menyapih di hari ulang tahun Sekar yang ke-2. Maka 6 bulan sebelumnya, di usia 18 bulan saya sudah mulai proses sounding tentang sapih ke Sekar.

Berdasarkan artikel di internet pula, saya tau kalau soundingnya harus spesifik. Anak kecil belum paham benar konsep apa itu ulang tahun, apa itu anak gede. Dari artikel yang saya baca umumnya menyarankan kegiatan spesifik seperti tiup lilin, sebagai acuan penanda agar anak lebih paham. Dan itu pula yang saya lakukan. Sejak usia 18 bulan, hampir setiap hari sebelum tidur, sambil nenen saya akan mengelus kepalanya sambil menatap mata Sekar dan berkata “Dek, nanti kalau ulang tahun, dede tiup lilin. Kalau sudah tiup lilin, berarti dede udah jadi anak gede. Kalau anak gede itu, nggak nenen ya, karena nenen itu untuk dedek bayi”.

Tiga bulan sebelum Sekar ulang tahun, saya dapat informasi baru bahwa menyapih nggak boleh mendadak berhenti total. Oleh karena itu saya coba bertahap dulu, dengan menyapih siang saat weekend ketika saya ada di rumah. Kalau weekday mah emang kan pasti nggak nenen karena saya nya ngantor. Lalu kalimat soundingnya pun ditambah dan lebih spesifik yaitu “Nanti tanggal 01 Oktober sudah mulai berhenti nenen siang, dan 24 oktober pas ulang tahun dan tiup lilin, udah nggak nenen sama sekali”.

01 Oktober 2016

Hari pertama menyapih siang ini berat, Jendral! Hahahaha. Berat ke saya, karena Sekar jadi sulit bobo siang -___________-“ padahal bobo siang weekend itu berharga BANGET buat saya. Saya sampe hampir nyerah bukan karena kasian sama anaknya, tapi kasian sama saya yang teler,hahahaha. Kepikiran di kepala “aduh kasih aja deh biar kita bisa bobo bareng berdua”, tapi alhamdulillah saya berhasil menang melawan diri saya sendiri *tebar confetti*

02 Oktober 2016

Berbekal pengalaman melelahkan menjalani hari tanpa tidur siang, saya curhat sama kembaran saya. Dan dia memberikan tips mujarab yaitu “quiet time”, di mana kita bilang sama anak kalau mau tidur. Kalau dia mau, ayo tidur bareng-bareng, tapi kalau nggak biarin aja main sendirian. Dan quiet time saya terapkan hari itu, alhamdulillah ya dapet bobo cantik setengah jam. Walaupun setelah setengah jam saya dibangunin sama Sekar, dan ujung-ujungnya ngegendong Sekar sampai bobo, dan lanjut kita bobo bareng.

03 Oktober s.d 23 Oktober 2016

Selama tiga mingguan ini, alhamdulillah bisa dibilang lancar. Kalau pagi hari bangun minta nenen, pasti langsung saya tanggapi dengan “Tuh lihat udah terang. Kalau sudah terang nggak nenen ya, nenennya nanti malam” alhamdulillah biasanya langsung lupa. Kalau di mobil perjalanan siang pun selalu disiasati dengan cemilan yang banyak, biar nggak ingat minta nenen. Weekend siang hari ketika saya di rumah pun alhamdulillah terbantu dengan quiet time. Biarin aja anaknya sibuk sendiri, bundanya bobo, hahahaha. Ujung-ujungnya kalau dia sudah sangat mengantuk akan bangunin saya, dan minta dipeluk atau tepuk-tepuk, alhamdulillah bobo sendiri.

Sempat ada satu insiden drama nangis agak kejer, karena pada hari minggu itu saya ada deadline email yang harus diselesaikan, dan Sekar nggak mau sama ayahnya. Tapi alhamdulillah selama total tiga minggu, yang parah pakai nangis sekali itu aja. Selama tiga minggu pula saya intens sekali sounding kalimat pengingat berhenti nenen, yaitu “Nanti tanggal 24 Oktober Sekar ulang tahun. Kalau ulang tahun, nanti Sekar tiup lilin. Kalau udah tiup lilin berarti udah anak gede. Anak gede itu nggak nenen. Karena nenen itu buat dedek bayi”. Saking seringnya, sampai Sekar hafal, hahahaha. Mudah-mudahan bukan hanya hafal teori, tapi juga prakteknya nanti ya…

Karena ceritanya panjang, lanjutannya di postingan berikutnya yaa.. 😉

Cerita Kelahiran Sekar : Part 3

Mari kita lanjutkan, dan semoga ini part terakhir, hahahaha.

Setelah ngeden tiga kali, putri pertama saya pun lahir ke dunia. Saya mendengar tangisannya yang kencang sekali pada pagi itu. Reaksi pertama saya: legaaaaaaaaa. Legaaaaaa banget karena dalam satu detik seluruh rasa sakit kontraksi itu hilang. Hilang blassss ketika bayi sudah keluar. Kata pertama yang saya ucapkan adalah “Alhamdulillah”. Saya nggak nangis dan merasa terharu atau apa, murni hanya perasaan lega karena perjuangan selesai, rasa sakit sirna sudah. Tapiiiiiiiiiiiii…tet tot! Ternyata saya salah.

Nggak lama setelah lahir, setelah tali pusat dipotong, Sekar langsung di bawa oleh salah satu bidan ke ruangan melahirkan untuk dibersihkan. Sedangkan bidan satu lagi, melakukan tindakan pembersihan rahim. Dan ternyataaaaaaa itu sakit! Awalnya sih sakit nya nggak seberapa ya, perut saya diteken teken. Tapi nggak lama dokter kandungan saya, Dr Nina Afiani, datang. Beliau pun minta maaf karena terlambat, dan mengambil alih proses.

Nah, menurut beliau, pembersihan rahim oleh bidan belum sempurna, dan kalau tidak bersih ada kemungkinan pendarahan. Jadi beliau membersihkannya dengan….mengobok-obok rahim sayah! Luar biasa itu rasanya, hahahaha. Dan setelah akhirnya sesi obok-obok selesai, saya kira penderitaan saya berakhir, tapi ternyata sekali lagi saya salah. Masih ada penderitaan lanjutan yaitu: dijait!

Jadi setelah rahim saya dianggap sudah bersih, si dokter mau melakukan sesi jahit menjahit. Tapi tidak bisa dilakukan di dalam ruang perawatan. Entah karena panik atau heboh dll, yang harusnya mah saya dipindah ke bed antar, saya malah disuruh pindah naik kursi roda. Tapi pada saat itu saya iyain aja sih. Toh kan udah ga sakit kontraksi lagi, jadi udah bisa turun pelan-pelan ke kursi dan pindah ke ruang lahiran untuk dijahit.

Jadi, bagaimana rasanya dijahit? LUAR BIASAAAAA! Mungkin karena selama satu setengah jam terakhir sebelum Sekar lahir saya sibuk ngeden tanpa kontrol, miring kanan kiri angkat pantat dan segala hal yang dilarang, ditambah kepala sekar tiba-tiba udah nongol di bawah tanpa sempat ada pengguntingan resmi dari dokter/bidan, robekan saya itu udah ga bisa dideskripsikan. Hahahaha. Pokoknya si dokter ngobras nya lamaaaaaaaaaaaaa banget. Ada kali hampir satu jam. Dan selama hampir satu jam itu pula saya teriak-teriak Allahu Akbar.

Masih teringat rasanya di bawah sana, persis ketika sedang menjahit baju. Ketika jarum yang kita pegang sudah menembus kain, dan kita menarik jarum tinggi-tinggi untuk menarik benang. Persis seperti itu rasanya kulit saya di bawah sana ketika benang itu ditarik. BEUGH. SAKIT GILAAAAA. Dan itu rasanya lama bangeeett yeeee. Saya sampai nanya setengah marah ke dokter “Dokter ini kapan selesainya?” Dan si dokter jawab “Nanti saya bilang kalau sudah selesai saja ya Bu”. Saking dia sendiri ga tau kayaknya selesenya kapan, hahaha.

Yang lucu adalah, pada saat itu, keluarga kami belum ada yang tau kalau saya sudah melahirkan. Mama dan kembaran datang sekitar setengah enam langsung kaget waktu tahu saya sudah lahiran. Semua nggak ada yang memprediksi saya lahiran secepat itu. Pas mereka datang saya lagi mulai diobras, dan mereka sibuk sama bayi dong, saya yang berjuang dilupain -_____-“

Untungnya nggak lama Dokter mengarahkan ke suster agar dimulai proses IMD, sambil saya dijahit. Walaupun nggak murni IMD banget sih, karena Sekar udah pake baju singlet biar ga kedinginan, plus nyusunya langsung dimasukin ke puting, nggak nunggu dia dapet sendiri. Tapi proses mulai nyusu pertama, dan alhamdulillah langsung pinter nyusunya, lumayan membuat lupa rasa sakit dijahit. Walaupun yaaaa, tetep aja jerit-jerit, tapi seenggaknya jerit sambil liat bayi lucu yang lahap menyusu lumayan membantu. FYI aja yah, pada saat saya kontrol jahitan dengan dokter, saya tanya berapa total jahitan saya di bawah sana. Dan dokternya menjawab “Tiga puluh mah ada kali Bu” JENGJENG. Luar biasaaaaa… Pantesan lama banget, hahahaha.

Sebenernya proses melahirkannya sudah selesai, tapi ada satu tambahan yang ingin saya ceritakan. Beberapa jam setelah di kamar, kondisi saya masih lemas. Karena dokter bilang saya sempat mengeluarkan cukup banyak darah, dan harus selalu dipantau agar tidak terjadi pendarahan. Ada satu titik di mana saya merasa sangat lelah, namun ternyata infus saya bermasalah, kalau nggak salah infusnya mampet. Lalu ketika suster datang untuk melihat infus dan memperbaiki posisinya, saya yang memang sangat trauma dengan infus, seketika menangis kejer ketika infus saya diutak-atik suster.

Semua yang ada di ruangan saat itu panik. Suster kemudian bertanya “Kenapa Bu, Ibu ada sakit di mana?” memastikan apa yang sebenarnya terjadi dengan saya. Karena saat itu memang saya masih masa observasi pendarahan, belum lewat masa kritisnya pasca lahiran. Saat itu saya cuman bisa nengok lemah ke arah kiri, tempat suami saya duduk dan kurang lebih berkata “Aku cuman pengen nangis”. Dan sebagai suami yang sangat memahami istrinya, suami saya bilang ke suster “Nggak papa, dia cuman pengen nangis aja”. Sayapun sambil masih nangis kejer menjelaskan ke suster, mamah saya, serta ibu mertua yang ada dalam ruangan “Dari semalam belum nangis. Kan kata mamah nggak boleh nangis”. Dan lalu meneruskan nangis kejer kurang lebih 15 menit.

Ya, saya memang tidak nangis setetes pun selama proses melahirkan, sejak induksi tablet pertama dimasukan, sampai detik itu, ketika tiba-tiba saya meledak tangis “hanya” karena posisi infus saya dibenarkan. Saya, yang semua orang kenal pasti bilang cengeng, berhasil tidak menangis bahkan pada saat-saat tersakit sekalipun. Kenapa? Karena doktrin si mamah.

Mamah saya, tau betul anaknya cengeng secengeng-cengengnya. Dari jauh hari beliau selalu berkata “Nanti jangan nangis ya, kalau kamu nangis nanti nggak ada tenaga”, berulang-ulang. Dan entah bagaimana, seperti terpatri dalam otak saya. Saya benar-benar tidak menangis sedikitpun, tapiiiiiii efeknya adalah ketika ter”sentil” masalah infus, saya meledak. Hahahaha. Pada saat itu, masih dengan kondisi menangis sesenggukan, saya sempat merajuk sambil menyalahkan mama dan berkata “Mama sih, ngelarang nangis”. Dan si mamah pun cuman menanggapi dengan senyum awkward, hahahaha. Tapi dipikir-pikir, pesan orang tua itu pasti ada benarnya. Mungkin kalau saya nangis semalaman, tidak cukup hanya mengejan tiga kali untuk mengeluarkan Sekar. Mungkin bisa puluhan kali, bahkan mungkin saya sudah kehabisan tenaga. Hikmahnya adalah, saran orang tua itu emang pasti untuk kebaikan anaknya J

Yah, demikianlah cerita panjang kelahiran Sekar. Untuk catatan, suatu saat nanti kalau lupa bisa jadi pengingat lagi. Mulai dari mendadak induksi, bukaan 1 ke 10 yang hanya 1,5 jam, lahiran di kamar rawat, obrasan puluhan jahitan di bawah sana, hingga ditutup dengan drama ledakan tangisan.

Begitulah kisah kelahiran Sekar, yang lahir di RSIA DHIA pada pukul 04.45 WIB pada tanggal 24 Oktober 2014, dengan berat 3120 gram, dan panjang 46,5 cm. Saya bersyukur pada Allah SWT selama 2 tahun ini dikaruniai anak yang sehat dan cerdas. Semoga menjadi anak sholehah yang cinta kepada Allah SWT, cinta ayah-bunda, dan seluruh keluarga besarnya, Amien.

 

 

 

Cerita Kelahiran Sekar : Part 2

Cerita part 1 nya di sini yaa…

Selama menunggu suami kembali ke RS, saya nyantai di kamar. Nyantai soalnya emang belom kerasa sakit apa-apa. Masih maenan hape, kirim kabar-kabar ke beberapa grup wa untuk ngabarin klo uda mulai induksi dan minta doa. Saya bahkan udah bikin template kabar lahiran buat dikirim nanti abis lahiran, hahahaha. Ohya, saya ambil kamar kelas 1 di RSIA Dhia, isi dua tempat tidur. Ketika saya masuk, sudah ada pasien operasi miom yang sedang pemulihan. Alhamdulillah nggak lama si mbak muda itu pulang, jadi saya berasa punya kamar VIP, bahkan dengan luas lebih gede, hehehehe.

Nggak lama suami datang, ngasih koper trus saya mandi bersih-bersih. Nonton, maen hape, ngaji, dll. Masih santai banget lah pokoknya. Nggak lama dapet kabar dari mamah, katanya nggak jadi dateng lagi malam ini, karena kebetulan ada jadwal pengajian malam jumat, biar sekalian didoain. Dan datengnya besok pagi aja katanya, toh kemungkinan besar baru lahir besok. Saya sih nggak papa juga, malah lebih nggak stress, hahahaha.

Sorenya bapak ibu mertua saya datang ke rumah sakit menengok hingga selepas maghrib, dan menjelang isya pulang kembali ke rumah. Awalnya saya minta suami anterin bapak ibu pulang, karena saya masih ngerasa baik-baik aja. Eh tapi malah ga dibolehin sm mertua, hehehe.

Jam 7 malam, saya dicek bukaan lagi, tapi belom nambah dong masih bukaan satu. Krik..krik..krik.. Selama 6 jam induksi tablet pertama, saya emang ngerasa baik-baik aja sih, kayak hari-hari kemarin. Sakit-sakit dikit ada lah, tapi buat saya masih bisa ditoleransi. Jadi kayaknya induksinya belum mempan gitu. Karena induksi tablet pertama belum berpengaruh, jam 8 malam saya dimasukan induksi tablet yang kedua, sekaligus dipasang infus. Aduh, saya tuh paling trauma sama infus. Saya sampe nanya ke susternya kok udah pasang infus kan baru induksi tablet? Dan katanya ini infusnya cairan aja, belum dimasukkan induksi infus. Yowes lah, saya terima aja.

Masuk induksi kedua pun, belum ada pengaruh signifikan. Dan dengan hasil evaluasi yang bilang bukaannya belum nambah, saya pun inisiatif jalan-jalan muterin lorong rumah sakit, siapa tau ngaruh, hahaha. Daann udah muterin ratusan kali sambil baca-bacaan Al Quran pun, rasanya belum ngaruh, sedih ya. Hahahaha. Akhirnya cape muter-muter, balik aja deh masuk kamar. Nah saya lupa di sekitar jam berapa, mulai ada kayak rembesan banyak dari bawah. Takut yang rembes adalah air ketuban, saya panggil susternya. Dicek sama susternya pakai kertas, katanya bukan air ketuban. Tapi suster pesen agar stay di tempat tidur aja nggak usah jalan – jalan lagi. Beberapa saat setelah itu, mulai tuh ada rasa sakit yang lumayan lumayan. Sempet yang remes-remes suami beberapa kali gitu deh, hahaha. Tapi karena masih ilang timbul, alhamdulillah sih masih bisa tidur.

24 Oktober 2014

Ketika sudah jam 02.00 wib, saya dicek lagi oleh susternya. Daaaaaaaaan masih pembukaan satu aja lagi dong. Akhirnya setelah konsultasi telpon dengan dokter, induksi infus pun diberikan sama suster. Dan, perjalanan melahirkan sesungguhnya pun dimulai, hahahahaha.

Induksi infus ini emang dahsyat yaaa efeknya. Dari awal dokter saya memang sudah bilang akan sangat sakit, makanya beliau memberikan induksi tablet dulu untuk rangsangan awal. Karena dikhawatirkan kalau langsung infus dan nggak berhasil, mau nggak mau harus langsung caesar. Dan benar aja, si induksi infus ini rasanya LUARRRR BIASAAAAHHH. Abis diinfus, blasssss nggak bisa tidur. Pokoknya luar biasa deh. Saya cuman bisa teriak AllahuAkbar, Astaghfirullah sama meres-meresin tangan dan badan suami. Sakiiittt beneeerr pooooll!

Sekitar jam 03.00 wib, suster datang cek bukaan lagi. Daaaaaann, bukaannya nambah, jadi…… bukaan 1 longgar. APAAAAAAAAAAH?? Bukaan 2 aja beloom??? Saya sampe nggak percaya lah, udah sakit kayak begini belom naek juga angka bukaannya? -____________-“ Dan lebih syok lagi pas susternya bilang “Ini masih lama bu, mungkin lahirannya nanti sore”. APPAAAAAAAHHHHHH? Sejam aja rasanya begini dan gue masih harus ngalamin sampe ntar sore????? Campur aduk deh rasanya, luarrr biasahhhh.

Saat itu saya ngadu banget rasanya kesakitan, dan pengen ngeden. Eh ndilalah si suster bilang ngeden aja bu nggak papa. Padahal mah saya tau sebenernya teorinya kalo belom bukaan lengkap nggak boleh ngeden. Ini masih bukaan 1 longgar bawaannya mau ngeden kenceng-kenceng. Tapi karena dikasih lampu ijo, yaudah. Abis susternya keluar, selama satu setengah jam kemudian, setiap saya mau teriak ya saya teriak. Setiap saya mau ngeden ya ngeden, mau ngangkat pantat ya ngangkat, ngadep kanan kiri bolak balik bodo amat udah nggak inget teori. Kayaknya semua yang dilarang saya lakuin deh, hahaha. Saya masih inget rasanya aliran entah air atau darah di bawah sana, setiap kali saya ngeden sepenuh hati. Tapi kan tadi kata suster boleh, jadi bodo amat gue maunya ngeden, ntar salahin aja susternya, hahahaha.

Nah harusnya kan dicek lagi jam 04.00 ya, tapi kayaknya susternya ketiduran jadi kelewat nggak ngecek  -______-“ Dan sekitar pukul 04.30 wib, suami ngeliat saya udah kesakitan banget, dan banyak sekali darah keluar dari bawah, akhirnya dia inisiatif manggil suster. Dia bilang ke suster kalau sudah banyak banget darahnya. Daaaaaaannnn ketika si suster ngecek apa yang terjadi? Suster dengan kagetnya ngomong “bukaannya udah lengkap?” Jeng jeeengg! Hanya satu setengah jam dari bukaan 1 longgar, saya udah bukaan 10. Reaksi pertama saya saat itu bilang: alhamdulillah. Karena saya langsung kepikiran nggak usah nunggu sampe sore, hahahaha.

Tiba-tiba suami nyeletuk “Itu, kepalanya, Sus?” Ebuset, udah mau nongol aja tuh kepala bayi. Mendadak udah harus lahiran, susternya panik banget! Kondisi saya saat itu masih di ruang rawat inap, bukan di ruang lahiran. Dan bed yang saya tempati, ternyata lebih lebar dari pintu kamar rawat. Mungkin perawat nya panik atau apa, bukannya saya dipindah ke bed antar (yang sebenernya ada di RS), saya ditanya bisa nggak pindah ke kursi roda? Ya saya jawab nggak bisaaaaaaaaaaa! Orang lagi sakit-sakitnya dan pengen ngeden masa disuruh pindah ke kursi roda.

Kepanikan lainnya adalah karena bukaan lengkapnya mendadak, dokter kandungan saya pun baru dikasih tau saat itu juga. Saya disuruh nahan aja dong, sampe dokternya dateng. Padahal dokternya rumahnya di BSD -____________-“ Ya jelas saya protes nggak bisaaaa nahan susteeeeeerrrr. Lagian udah lengkap juga kan yaaa. Akhirnya apa yang terjadi, suster mutusin saya lahiran di kamar rawat aja. Karena suster jaga ini sebenarnya adalah bidan, jadi akhirnya diproses kelahiran dengan suster/bidan Ika dan Puji yang malam itu bertugas. Suster yang satu stay di ruangan, sambil yang satu lagi sibuk ambil peralatan. Heboh deh pokoknya, hahahaha.

Pas udah siap alat-alatnya dan saya dibolehin ngeden, saya pun memposisikan kaki seperti yang udah diajarin di senam hamil, dan alhamdulillah masih ingat cara mengejan yang benar sesuai teori yaitu sambil melek dan tidak bersuara. Alhamdulillah, hanya dengan ngeden tiga kali, Sekar lahir dengan selamat ke dunia.

Selanjutnya, saya ceritain di part 3 aja yah, udah panjang banget soalnya, hehehehe..

Cerita Kelahiran Sekar : Part 1

Dalam rangka memperingati proses hidup mati yang dialami dua tahun yang lalu, tepat hari ini saya mau posting cerita suka duka melahirkan tanggal 24 Oktober 2014 yang lalu. Walaupun sejujurnya, ada beberapa ingatan yang sudah memudar, mungkin terkikis usia, hahaha. Nah makanya biar ada tertulisnya, yuklah diposting aja ya…

09 Oktober 2014

Hari ini hari terakhir kerja sebelum cuti melahirkan. Sebenernya due date saya masih tanggal 29 Oktober, tapi karena kebetulan cuti tahunan masih banyak, sekalian diabisin aja. Dan jatohnya tanggal mulai cuti melahirkannya kurang lebih satu minggu sebelum HPL. Kondisinya juga perut udah gede banget sih, cape aja pengennya gogoleran aja di lantai rumah, hahahha.

10 Oktober 2014

Jadwal kontrol ke dokter kandungan, dan ketika dicek dalam, udah bukaan satu sempit katanya dokter. Wah alhamdulillah seneng banget. Emang saya berulang kali berdoa sama Allah SWT agar lahirannya lebih awal dari HPL, karena kembaran saya sudah membeli tiket kepulangan ke New Zealand di tanggal 31 Oktober. Pengennya mah dia sempet lihat ponakannya sebelum pulang ke negeri domba.

11 Oktober – 22 Oktober 2014

Setelah tau udah bukaan satu sempit, tambah semangatlah jalan pagi sore nya, biar merangsang cepet keluar gituh. Tapih oh tapih, di kontrol berikutnya masih dong bukaan satu sempit. Belom nambah, huuhuuu… Yowes, sabar saja kitah.

23 Oktober 2014

Pagi itu agak berbeda dari biasanya. Saya merasa pergerakan si debay berkurang dari biasanya. Cukup khawatir juga, karena beberapa minggu sebelumnya, teman seperjuangan hamil saya harus kehilangan bayinya karena terlambat dibawa ke dokter kandungan setelah mengalami gejala yang sama. Saya pun akhirnya kirim wa ke dokter, cerita bahwa pergerakan bayi berkurang. Saya nanya dulu, perlu kontrol sekarang, atau besok saja hari Jumat yang memang sesuai jadwal kontrol mingguan. Si dokter yang kebetulan praktek jam 11 siang itu, langsung memerintahkan saya datang ke RS saat itu juga. Karena suami sudah berangkat kerja, akhirnya saya diantar mamah naik taksi ke RSIA DHIA. Suami sendiri setelah saya informasikan bahwa akan ke RS, langsung ijin pulang dari kantor dan menyusul ke RS.

Sampai di ruang praktek, dicek USG, alhamdulillah sehat semua nggak ada masalah. Dan dicek dalem udah turun panggul, tapi teteeeeeupp masih pembukaan satu sempit. Dua minggu aja dong di pembukaan satu ga nambah-nambah. -______-“

Tapi walaupun usg dan cek dalem oke, dokter masih khawatir dengan pergerakan yang kurang. Saya lalu disuruh tes, lupa nama tesnya. Tapi tesnya harus setelah makan. Jadi saya sama si mamah makan ayam bakar Mas Mono yang enak banget itu di perempatan duren (info penting), lalu kembali untuk menjalani tes.

Saya diajak suster masuk ke ruang tempat melahirkan, berbaring di ranjangnya dan perut saya dibuka ditempelin alat-alat. Selain itu saya diberikan sebuah alat, yang diinstruksikan untuk dipencet setiap kali ada gerakan dari bayi. Lalu saya pun ditinggal selama kurang lebih 15 menit (kalau nggak salah). Dan selama itu pula, ada kertas yang muncul dari alat utama, dengansudah tertuliskan grafik-grafik. Setelah selesai, saya diantar suster ke ruang kontrol, dan kertas grafik tersebut diberikan ke dokter Nina. Alhamdulillah saat itu suami sudah sampai di RS, sehingga kontrol hasil tes nya sudah ditemani oleh suami.

Menurut dokter, berdasarkan hasil grafik, detak jantung dede bayi bagus, normal. Namun memang yang dikhawatirkan adalah pergerakannya. Karena saya hanya memencet tombol selama 3 kali, sedangkan minimal gerakan normal sebanyak 5 kali selama tes berlangsung. Pada saat itu juga dokter menyarankan agar dede bayi harus segera diproses untuk dilahirkan, baik secara normal maupun caesar.

Karena masih pembukaan satu sempit, bila ingin segera lahiran dengan proses normal, jalan satu-satunya adalah dengan proses induksi. Kalau tidak ingin di induksi, opsi lainnya adalah caesar. Dokter Nina dengan detil menjelaskan proses induksi yang akan dijalani seperti apa. Bahwa induksi pertama diberikan dalam bentuk tablet melalui vagina, 2 kali 6 jam. Dan apabila belum berhasil akan dilanjutkan dengan induksi melalui infus. Dokter Nina pun menegaskan bahwa ketika induksi dipilih, ada 50-50% kemungkinan lahir normal, maupun caesar. Karena rasa sakit induksi menurutnya, berkali lipat dibandingkan sakit kontraksi alami, dan pada kondisi tertentu ada kemungkinan baik ibu maupun bayi tidak kuat, dan harus segera dilakukan tindakan operasi.  Dan saya diberikan kesempatan untuk memilih, tanpa diarahkan kepada pilihan tertentu.

Karena keinginan saya dari awal memang lahiran normal, setelah diskusi dengan suami, bismillah kita putuskan untuk menjalani proses induksi. Kemudian sekitar pukul 13.00 wib, saya pun dimasukkan induksi tablet pertama oleh dokter. Informasi yang disampaikan dokter, induksi tablet durasinya 6 jam. Setelah 6 jam nanti direview lagi tindakan selanjutnya apa.

Setelah dimasukkan induksi, saya sempat nanya dong ke dokter, boleh pulang dulu nggak? Trus diketawain, hahaha. Katanya kalau udah diinduksi sakit bu, nggak bisa kemana-mana. Yowes lah, akhirnya setelah administrasi beres dan dapat kamar, suami pulang ambil koper dan mobil sekaligus antar mamah, sementara saya di kamar rumah sakit sendirian.

Selanjutnya, saya ceritain di post berikutnya aja yah, udah panjang soalnya, hehehehe..

Serba – serbi MPASI Part 3: Pembuatan, Penyimpanan dan Penyajian MPASI Beku (Frozen Food)

Akhirnyaaah niat nyelesein dateng juga, hehehehe. Di bagian terakhir mau sharing tentang cara penyimpanan dan penyajian MPASI Beku, mudah-mudahan bermanfaat yaa.

index3

Tapi sebelum masuk ke detilnya, pertama-tama saya mau infokan dulu sumber terpercaya saya dalam proses pembuatan Frozen Food ini yaitu di sini. Pada website tersebut tertera jelas makanan apa yang baik/tidak baik dibekukan, dan kondisi terbaik untuk membekukannya.

Yang kedua, perlu diperhatikan bahwa tidak semua jenis makanan, saya simpan dalam kondisi beku. Jenis makanan yang saya buat Frozen Food hanya 3 macam yaitu: Protein/Lauk, Sayuran, dan Air Kaldu.

Kenapa hanya tiga itu? Karena dalam menyajikan ketiganya, melalui proses lebih dari satu tahapan, makanya dibekukan. Sedangkan untuk buah, pada dasarnya boleh dibekukan. Tapi karena saya biasanya memberikan buah yang mudah saji seperti pepaya-pisang-alpukat-jeruk-buah naga-semangka yang hanya satu kali proses kerok/peras/potong, saya memilih untuk disajikan langsung. Dan untuk serealia seperti bubur nasi putih/merah/coklat, saya memilih bergantung kepada alat ajaib bernama slowcooker yang membuat hidup lebih mudah dan waras, hahaha.

Okeh, kita langsung ke detil cara pembuatan-penyimpanan-penyajian ketiga jenis makanan tersebut ya…

 

SAYURAN

index2

Pembuatan

Untuk sayuran, tahapan pembuatannya adalah dengan mengukus/merebus. Berdasarkan beberapa referensi artikel yang saya baca, proses mengukus lebih sedikit menghilangkan vitamin/kandungan pada sayur, sehingga saya memilih untuk memproses sayuran dengan mengukus.

Setelah dikukus, proses selanjutnya adalah menghaluskan. Di awal MPASI, saya biasa menggunakan blender. Tapi ketika tekstur makanan saya naikkan menjadi lebih padat, biasanya saya cukup menggunakan parutan atau cacah dengan pisau untuk membuat makan menjadi halus.

Penyimpanan

Setelah sayuran halus, saya akan masukkan ke dalam cetakan es batu (ice cube tray). Jika ingin lebih mudah, sebaiknya membeli ice cube tray yang sudah ada tutupnya. Tapi kalau nggak ada pun ga masalah, saya biasa beli cling wrap untuk menutupnya, dan jika sudah tertutup rapat, tinggal dimasukkan ke freezer untuk membekukan

Jika sayurannya sudah beku, tinggal dikeluarkan dari ice cube tray, dan dimasukan kedalam ziplock makanan, dan diberikan judul makanan serta tanggal pembuatan.

Penyajian

Untuk penyajiannya, tinggal ambil beberapa ice cube dari freezer sejumlah kebutuhan, lalu yang biasa saya lakukan ada dua, menghangatkan di magicom/ricecooker, atau digabungkan dengan bubur panas yang sudah matang di slowcooker. Untuk cara kedua, biasanya bubur nasi untuk makan siang dan sore sudah saya pisahkan di tempat makan terpisah, dan sayuran/lauk beku untuk pagi itu saya aduk2 dalam bubur panas, akan langsung mencair dan siap dimakan.

 

PROTEIN/LAUK

index4

Pembuatan

Kalau sayur dimasak dulu baru dihaluskan, protein sebaliknya. Dihaluskan dulu, baru dimasak. Untuk daging ayam dan daging sapi, biasanya biar mudah saya beli sudah dalam kondisi digiling dari supermarket, jadi sudah halus. Namun untuk makanan laut (ikan, udang dll), hati, tempe, tahu, biasanya saya cacah dengan pisau hingga halus, baru dimasak.

Proses memasaknya pun lebih advance dari sayuran. Biasanya protein-protein tersebut saya olah menjadi nugget (ayam,tempe), bakso (ikan,udang), dan gravy (daging sapi, hati ayam) terlebih dahulu. Resep nugget dan bakso banyak ya di gugel, ga tentu kadang pake resep yang mana, hehehe. Sedangkan resep gravy andalan ada di sini.

Penyimpanan

Kalau nuggetnya sudah selesai dikukus, lalu dipotong sesuai selera, baru bisa dibekukan. Kalau bakso sudah selesai direbus, barulah dibekukan. Agak tricky membekukan nugget dan bakso, karena kalau proses pembekuannya saling menempel, ketika sudah beku akan sulit dilepaskan. Jadi sebaiknya dibekukan dalam keadaan berjarak, baru setelah beku bisa digabung jadi satu dalam ziplock.

Untuk gravy, cara membekukannya sama seperti sayuran. Karena dia teksturnya agak cair/kental, dimasukan dulu ke dalam ice cube tray, lalu didinginkan hingga beku dan disimpan dalam ziplock

 

Penyajian (sama dengan sayuran)

Untuk penyajiannya, tinggal ambil beberapa ice cube dari freezer sejumlah kebutuhan, lalu yang biasa saya lakukan ada dua, menghangatkan di magicom/ricecooker, atau digabungkan dengan bubur panas yang sudah matang di slowcooker. Untuk cara kedua, biasanya bubur nasi untuk makan siang dan sore sudah saya pisahkan di tempat makan terpisah, dan sayuran/lauk beku untuk pagi itu saya aduk2 dalam bubur panas, akan langsung mencair dan siap dimakan.

 

KALDU

Pembuatan

Ada banyak resep kaldu di internet. Tapi yang biasa saya buat dari air, ceker ayam, wortel, bawang putih geprek, dan daun bawang, direbus sampai mendidih.

 

Penyimpanan

Setelah kaldu jadi, dituang kedalam ice cube tray, dan dibekukan. Setelah beku, dimasukan ke dalam ziplock.

 

Penyajian

Kaldu yang saya buat, biasa saya gunakan untuk membuat bubur di slowcooker. Perlakuan kaldu beku sama dengan asip beku. Sebelum diproses, harus diturunkan dulu dari freezer ke chiller hingga cair, baru bisa digunakan untuk membuat bubur.

 

Demikian bagian ketiga mengenai serba-serbi MPASI selesai juga ditulis *tebar confetti* Sampai jumpa dipostingan lainnya 😉

Pesan kepada semua orang yang sedang berhadapan dengan Ibu Menyusui

Saya baru saja beranjak dari lantai musholla setelah selesai memerah, ketika pintu musholla terbuka dan Mbak berkerudung itu masuk. Mengingat jadwal perah kedua saya sengajakan menjelang azan magrib ketika musholla masih dalam kondisi sepi, saya memang hampir setiap hari berpapasan dengannya, dengan si Mbak berkerudung yang selalu on time untuk sholat berjamaah.

Pada hari biasa, biasanya kita hanya bertukar senyum, dia rasanya sudah hafal juga dengan jadwal perah saya yang kemudian dilanjutkan dengan sholat maghrib. Namun hari itu ternyata bukan hari biasa, karena ada dua patah kata yang meluncur dari mulutnya. Kala itu dia bertanya “Kok, sedikit?” Dua patah kata tanpa bernada pretensius, namun cukup berdampak besar bagi saya sebagai subjek yang ditanya.

Reaksi pertama saya, yang setengah jam sebelumnya berusaha keras banting tulang mengeluarkan tetes demi tetes, adalah marah. Tapi cukup marah dalam hati saja, tidak dikeluarkan secara lisan. Alhamdulillah lisan masih bisa terjaga dengan hanya membalas mbak tersebut “Iya nih, lagi sedikit” dan sedikit tambahan tawa yang canggung.

Karena ada emosi amarah dalam hati, saat itu saya putuskan keluar dari musholla dan tidak langsung beribadah maghrib. Amarah tersebut termanifestasi dalam percakapan pribadi di dalam hati seperti “Iya, emang dikit. Ga usah disebut sama orang lain juga gue sendiri tau itu dikit”.  Dan kalimat yang lebih kejam seperti “Lo tau apa sih, pake komentar-komentar segala hasil perahan gue, hamil aja belom udah sok-sok an komentar tentang asi”. Iya, agak kejam ya kalimat itu, apalagi karena si mbak bukannya ga mau hamil, tapi sudah bertahun-tahun menikah belum diberi rejeki anak oleh Allah SWT. Jadi saya bersyukur, kalimat-kalimat tersebut hanya muncul di dalam hati, tidak sampai saya ucapkan kepada si Mbak.

Setelah menenangkan diri, saya pun mencoba berpikiran positif seperti “Tadi nadanya bertanyanya tulus kok, rasanya emang beneran concern kali ya bukan nyinyir. Mungkin dia biasa liat botolnya penuh, trus sekarang cuman sepertiganya, makanya nanya”. Alhamdulillah sih dengan berusaha positif, jadi ga terlarut emosi lebih lama, yaaaaa walaupun sempet posting juga sih di IG, hahaha.

Nah, pembukaan yang panjang lebar di atas intinya apa sih? Intinya sebenernya pengen ngasih tau, perjuangan menyusui itu tidak mudah, dan berbeda untuk setiap Ibu. Sehingga ada baiknya, sebelum kita bertutur kata maupun bersikap yang berhubungan sama Ibu Menyusui, yuk dipikirkan dulu apa yang sebaiknya dilakukan dan yang tidak. Kayak pengalaman saya di atas. Mungkin si Mbak ngerasa nanya hal yang biasa saja, tapi buat saya yang lagi masa kemarau banget ASIP nya pada saat itu dan sudah berusaha keras banting tulang untuk merah, ditanya begitu bawaannya pasti emosi berat laah.

Nah, terinspirasi kejadian tersebut, dalam rangka merayakan Pekan Asi Dunia, saya mau berbagi beberapa pesan bagi siapapun yang sedang bersinggungan dan berhadapan dengan para Ibu Menyusui. Mudah-mudahan bermanfaat dan membantu ya. Berikut pesan-pesannya:

Kepada perempuan yang belom menikah/hamil/punya anak: Tolong, jangan melontarkan kalimat yang bernada penilaian negatif!

Hindari sekali kalimat-kalimat judgemental seperti “Kok asinya dikit banget?”, “Kurang banyak makan sayur kali”, “Kok bayinya dikasih sufor?”. Karena kalian belum pernah mengalami, dan belum tentu tau juga seberapa besar usaha para Busui, maka jauh lebih baik untuk diam sama sekali, ATAU, melontarkan kalimat-kalimat membangun seperti “Wah, hebat yah Mba bisa merah di kantor. Semangat ya Mbak”, “Katanya sayur-sayuran hijau dan kacang-kacangan bagus untuk Ibu Menyusui, Mbak. Semangat ya makan sayurnya”. Tapi percaya deh, berhubung kalian belum mengalami proses itu, diam itu jauuuuhh lebih baik.

Kepada para nenek-eyang yang anaknya sedang berusaha memberikan yang terbaik bagi cucu Anda: Tolong, dukung mereka agar berhasil Asi Exclusive!

Nek/Eyang, bayi itu bisa loh hidup tanpa meminum cairan selama 72 jam pertama kehidupannya. Jadi tolong, jangan buru-buru menasehati anaknya memberikan sufor untuk cucu tersayang ya. Begitupun jika anaknya punya tantangan ASI di kemudian hari, tolong dukung mereka dengan tidak menyarankan Susu Formula sama sekali! Insya Allah anak Nenek/Eyang sekalian adalah Ibu tangguh yang PASTI bisa memberikan asi exclusive bagi cucu Anda tersayang

Kepada para suami yang istrinya sedang berjuang memberikan ASI: Tolong, dukung mereka agar berhasil Asi Exclusive!

ASI Istri Anda PASTI cukup. YAKINI itu, DAN tularkan keyakinan itu pada istri tercinta. Pastikan kehadiran kalian wahai Suami, di samping istri yang sedang sangat membutuhkan dukungan. Curahkan istri Anda dengan perhatian dan kasih sayang, fasilitasi dengan segala kebutuhan fisiolofis maupun psikologis, agar sang Ibu bisa memberikan asupan terbaik bagi anak kalian, dalam kondisi bahagia. Bahagia adalah salah satu kunci utama lancarnya produksi ASI.

Kepada sesama ibu yang sedang menyusui: Tolong, jangan membanding-bandingkan!

Setiap ibu, tantangannya berbeda. Ada yang mudah menyusui, ada juga yang menghadapi perjuangan lebih berat. Tidak ada yang perlu dibandingkan, tidak ada yang perlu dibanggakan. Cukup tularkan semangat menyusui yang Anda punya, agar busui lainnya bisa menjalani dengan mudah seperti Anda.

Kepada Ibu yang sudah berhasil lulus menyusui anaknya secara exclusive: Tolong, jangan merendahkan busui yang perjalanan breastfeeding nya lebih sulit daripada Anda!

Tidak perlu mengecilkan usaha mereka yang sedang berjuang, tidak perlu pula membanggakan keberhasilan Anda. Akan jauh lebih baik memberi tips-tips Do’s & Don’ts yang bisa mempermudah perjuangan mereka. Dan (seperti pengalaman pribadi saya), kalau kita sudah berbagi ilmu semaksimal mungkin tapi Sang Ibu tetep menyerah pada SuFor, lebih baik relakan saja. Bagian kita membantu memberi pengetahuan sudah dilakukan, biarkan saja jika mereka ternyata punya pilihan hidup yang berbeda untuk anaknya.

Kepada semua ibu yang sedang berjuang menyusui: Tolong, jangan patah semangat! Menyusui itu tidak mudah, tapi PASTI BISA dilakukan dengan kerja keras.

Maaf jika kalimat ini terlalu keras, tapi tetap akan saya sampaikan: Menjadi orang tua adalah bukan untuk para pemalas, kalau tidak mau kerja keras lebih baik jangan jadi orang tua! Hamil, melahirkan, menyusui, mendidik, merawat, bukan pekerjaan mudah. Tidak mudah, tapi bisa dilakukan. Ada nasib satu nyawa manusia diamanahkan kepada kita, dan kita harus berusaha memberikan yang terbaik. Jika memberikan yang terbaik berarti harus bangun tengan malam untuk memerah, lakukanlah! Jika memberikan yang terbaik berarti harus memompa setiap tiga jam sekali, lakukanlah! Semangat ya ibu-ibu semua, pada akhirnya semua usaha kita akan terbayar ketika tahu buah hati kita menerima haknya untuk mendapatkan yang terbaik. Insya Allah, Allah SWT yang akan membalas perjuangan  dan usaha Ibu-ibu semua.

Fiuhhhh, panjang aja yak postingannya, nyerempet curhat sih ya soalnya, hahaha. Mudah-mudahan pesan-pesan ini ada manfaatnya ya.

Sampai ketemu di tulisan berikutnya 😉

 

Postingan ini ditulis untuk memeriahkan Pekan ASI Dunia, dan diikutsertakan dalam Give away blog Duniabiza.com

20

Berobat Gigi Gratis di Puskesmas (Plus cerita panjang perjalanan berobat gigi)

Saya termasuk ke dalam golongan orang-orang yang giginya bermasalah. Dari dulu. Memori ke dokter gigi terdahulu yang masih saya ingat adalah sekitar usia kelas 2-3 SD, ke klinik dokter gigi bapak-bapak Chinese, yang prakteknya di depan kolam renang Bintaro Sektor 1. Selalu senang datang ke sana, entah kenapa. Sering bersinggungan dengan dunia tambal-menambal gigi sejak awal alhamdulilllah ga bikin trauma. Rasanya saking sering ke dokter gigi, segala jenis treatment udah pernah dicobain mulai tambal sementara, tambal tetap, bor, scalling, perawatan syaraf,matiin syaraf, sampai cabut gigi. Saking kebalnya diapain aja, rasanya bunyi bor dokter gigi semacam terapi menenangkan buat saya, hahahaha.

Perjalanan klinik gigi selanjutnya adalah Klinik Gigi Ritz Sektor 9, UPT Kedokteran Kampus UNPAD, Klinik Masjid Raya Bintaro Jaya, dan terakhir pagi ini mencoba UPT Puskesmas Pondok Pucung. Empat klinik yang disebutkan terakhir saya pilih karena: murah. Hahahaha. Klinik pertama dan kedua saya masih usia sekolah, dan perawatan kesehatan semua full ditanggung perusahaan papah, jd g usah pusing mo ke dokter manapun. Ketika jadi anak kos, dan tetap mengaami masalah gigi, ke klinik gigi swasta mikirnya seribu kali dong, hahahaha. Akhirnya mutusin ke dokter kampus aja murah meriah.

Lulus kuliah, namapun freshgrad gaji g seberapa ya, ketika masalah gigi muncul lagi, alhamdulillah yah, di mesjid deket rumah punya fasilitas kesehatan amat sangat terjangkau yang diperuntukan bagi masyarakat umum. FYI, tambal gigi tetap hanya 40ribu loh satu gigi. Saya pernah tambal sekaligus dua, malah lebih murah, 60ribu saja. Walaupun akhirnya udah pindah ke perusahaan yg memberikan fasilitas kesehatan lebih baik pun, masih setia berobat gigi di mesjid. Soalnya rasanya gimana gitu yaaa kalo mesti ngeluarin duit ratusan ribu buat satu gigi doang. Perhitungan emang sayah. Hahahaha. Sampai dengan klinik gigi ke lima, klinik mesjid raya, total ada lima gigi saya yang sudah ditambal tetap. Hingga kemudian datanglah tragedi keripik singkong, kamis kemarin.

Karena keripiknya keras kali yaaa, tambalan gigi yang geraham bawah sebelah kiri, copot. Tambalannya sendiri tuh padahal segede 60% dari ukuran gigi. Nah, sisa giginya, patah terbelah dua. Satu belahan kuat tertancap, tapi belahan sisanya oglek-oglek mau copot. Berhubung kondisinya mengkhawatirkan, pulang kantor langsung cari klinik gigi yang terjangkau harganya. Eh apa daya udah ujan-ujanan naek gojek, sampe klinik ditolak karena udah penuh. *nangis dipojokan*. Walhasil pulang aja deh karena udah kuyup, dan berencana ke dokter gigi besok pagi. Kebetulan temen kantor ada yang baru dengan bangganya memamerkan betapa murahnya biaya dokter gigi puskesmas yang Cuma 19 ribu saja sudah termasuk pendaftaran dan tambal sementara. Akhirnya saya coba deh, nunggu pagi aja ke Puskesmas.

Sesuai intruksi mamah yang pernah berobat di puskesmas, katanya mesti ambil nomer urut dulu pagi-pagi bener. Jam 06.30 saya naik motor ambil nomor urut, dapat nomor 2, lalu balik dulu ke rumah. Setelah menyelesaikan urusan domestik, jam 7.40 berangkat lagi ke puskesmas. Sampai puskesmas belum banyak orang, nomor urut pun baru sampai nomor 5.

Pukul 8 tepat, loket pendaftaran di buka. Petugas memanggil sesuai nomor urut, rata-rata calon pasien yang saya lihat adalah pemegang kartu BPJS. Ketika nomor urut saya dipanggil, saya lapor bahwa saya pasien baru, dan bukan peserta BPJS, serta tujuannya berobat gigi. Tidak lama saya dibuatkan kartu pasien (yang berlaku untuk satu keluarga), dan di beri nomor urut antrian gigi.

Saya kemudian menunggu sampai dipanggil sekitar 30 menit. Waktu yang agak lama menurut saya, mengingat saya antrian nomor urut 1. Ketika akhirnya dipanggil masuk, kesan yang saya dapat adalah ruangannya bagus, bersih, dan ga murahan. Selevel lah sama klinik-klinik swasta lainnya, masih lebih sederhana yang di Mesjid Raya. Dokternya juga baik sekali dan SELALU menjelaskan tindakan apa yang akan dia lakukan, bahkan mau nurunin senderan bangku aja dia ijin dulu. LOL.

Setelah diperiksa dokter menyarankan belahan gigi yang oglek untuk dicabut. Namun karena giginya sudah oglek, proses pencabutannya lebih mudah dan HANYA bius dengan gel, bius yang buat anak-anak kata dokternya, hahaha. Alhamdulillah sih, saya gak belum perlu ngalamin suntik bius di gusi. Prosesnya bagian dalam mulut sampai bibir dibuat kebas dan kesemutan dengan gel nya, lalu gigi saya dicabut pakai tang. Sakit kaget dikit aja sih, menurut saya.

Setelah dicabut, dokter memberikan rujukan agar saya rontgen gigi panoramic dulu, sebelum sisa gigi nya dicabut, karena mau dilihat kondisi akar giginya dulu. Beliau pun memberikan surat rujukan ke FKG Univ Dr. Moestopo, karena menurut beliau, biayanya terjangkau sekitar 90ribu saja. Setelah itu saya diberi resep obat penghilang rasa sakit yang harus ditebus di apotek.

Keluar dari ruang dokter gigi, melangkah lah saya ke Apotek menyerahkan resep. Tidak lama resep diberikan oleh apoteker. Saya diberi satu kantong plastik putih polos berisi tiga macam obat. Itu saja. Dan karena bingung, saya refleks bertanya “Bayar berapa?”. Apotekernya menjawab dengan pertanyaan apakah saya menggunakan KTP Tangerang Selatan. Jika iya, maka biayanya gratis.

IYA. GRATIS.

Huwowww! Biaya ratusan ribu di tempat lain di sini tidak keluar sepeser pun! Padahal saya mah udah nyiapin recehan lumayan lah, berbekal informasi 19ribu dari temen saya. Tapi ternyata tidak! Semua GRATIS! Kepada siapapun yang membuat kebijakan KTP Tangsel gratis di puskesmas Tangsel, terima kasih banyak. Anda telah mengangkat beban biaya kesehatan bagi banyak orang. Hanya saja kekurangannya, mungkin belum banyak yang tau mengenai hal ini, jadi sosialisasinya harus ditingkatkan lagi.

Jadiiiii buibu pakbapak manteman yang sama pelitnya sama saya, ga mau ngeluarin ratusan ribu buat satu gigi, bisa loooh di coba ke Puskesmas. Pelayanan bagus tapi harga sangaaaat murah, bahkan gratisss untuk warga Tangsel. Semoga berguna ya infonya 😉