Perjalanan TB Tulang: Prosedur BPJS – RS IMC Bintaro

Kembali di cerita perjalanan TB Tulang ibu saya. Posisi terakhir ibu saya sudah dianjurkan untuk melakukan operasi pasang pen, dan biopsi oleh Dr. Phedy, dengan besar biaya tindakan di RS Premier Bintaro kalau tidak salah sebesar 120jutaan, belum termasuk biaya ruangan rawat inap dan obat. Atas dasar biaya yang besar tersebut kami memutuskan mengubah haluan dari pengobatan biaya pribadi beralih ke BPJS.

Ibu saya sebelumnya telah mengantongi surat rujukan orthopedi dari Puskesmas Pondok Pucung. Akhirnya kami daftarkan ibu saya ke RS IMC Bintaro dengan berbekal surat rujukan tersebut. Prosedur pendaftaran pasien BPJS di RS IMC termasuk mudah karena untuk mendapatkan nomor antrian dapat melalui whatsapp. Nomor wa RS IMC Bintaro yang dapat dihubungi adalah +62 855-1200-071.

Dari pendaftaran lewat wa tersebut, ibu saya mendapat tanggal dan nomor antrian dokter. Kurang lebih 1 mingu dari hari saya melakukan pendaftaran melalui wa. Pada tanggal yang ditentukan, saya berangkat lebih awal RS IMC, dan jika pendaftaran sudah terselesaikan saya akan info ibu saya untuk datang, agar ibu saya tidak terlalu lama menunggu.

Saya mengambil nomor pendaftaran BPJS di mesin, lalu menunggu nomor kami dipanggil. Setelah nomor kami dipanggil, saya mendatangi petugas pendaftaran. Dari petugas tersebut saya diminta memberikan surat rujukan asli, dan fotokopi. Karena saya tidak mempersiapkan fotokopinya, saya terpaksa pergi dulu ke kantin untuk melakukan fotokopi. Setelah kembali ke pendaftaran dengan membawa fotokopian, saya diminta mengisi semacam form kronologis riwayat penyakit. Kemudian setelah form tersebut terisi, saya pun disuruh menunggu dipanggil oleh suster untuk pemeriksaan.

Tidak lama kemudian ibu saya datang, dan dipanggil pemeriksaan oleh suster untuk mengukur tekanan darah tinggi, berat, dan tinggi badan. Setelah selesai pemeriksaan dengan suster kami pun menunggu kembali hingga dipanggil oleh suster asisten dokter orthopedi.

Setelah dipanggil, saya Bersama ibu saya akhirnya masuk ke dalam ruangan dokter. Saat itu kami datang sudah membawa hasil rontgen di RS Premier Bintaro, dan hasil MRI RS Dr. Suyoto. Dari pemeriksaan fisik dan pembacaan hasil, dokter orthopedi mendiagnosa hal yang sama dan merujuk ibu saya untuk diperiksa lebih lanjut di Rumah Sakit Tipe B, dan RS yang kami pilih adalah RS Medika BSD. Kalau tidak salah ada 1-2 pilihan rumah sakit lain, tapi saya lupa nama RS nya.

Dokter orthopedi akhirnya membuat surat rujukan, dan suster orthopedi mengarahkan untuk membawa surat rujukan ke bagian pendaftaran. Setelah saya memberikan surat rujukan ke bagian pendaftaran, kemudian petugas menginput rujukan ke dalam system BPJS online dan mencetak surat rujukan untuk ke RS Medika BSD.

Beberapa hal yang harus diperhatikan menurut saya jika baru menjalani prosedur BPJS ke RS Tipe C pertama kalinya:

  1. Bawa semua dokumen dalam kondisi asli DAN fotokopi. Kartu BPJS, surat rujukan faskes 1, KTP, bahkan KK jika perlu. Bawa aja semua dokumen aslinya, dan jangan lupa siapkan fotokopinya.
  2. Jika sudah dapat surat rujukan ke RS tipe berikutnya yang ditandatangani dokter, jangan lupa diinformasikan ke petugas pendaftaran. Karena petugasnya akan menginput ke system BPJS nya, sehingga di system sudah tercatat akan dirujuk ke mana
  3. Karena proses antri yang cukup menyita waktu, jika memungkinkan sebaiknya pasien tidak berobat sendirian, dan ditemani.

Sementara sampai sini dulu ya. Postingan selanjutnya akan saya ceritakan proses BPJS di RS Medika BSD yang sangat melelahkan dan membuat kapok, hehehe.. Sampai jumpa…

 

 

Perjalanan TB Tulang : Diagnosa

Oke, saya lanjutin cerita tentang TB Tulang ibu saya ya.. Postingan sebelumnya ada di sini

Malam itu, berbekal surat rujukan MRI kami pulang. Info dari suster MRI tidak bisa dilakukan langsung harus dengan perjanjian, dan saat itu juga sudah terlampau larut, sehingga kami memutuskan pulang. Setelah pulang, esoknya saya menelepon pihak RS Premier Bintaro untuk menanyakan biaya MRI. Info yang saya dapat biayanya 3,8juta, 2 kali lipat dari biaya yang saya keluarkan pada bulan Februari untuk MRI di RS Dr. Suyoto. Dikarenakan alasan biaya, akhirnya keluarga memutuskan untuk MRI di RS Dr. Suyoto. Biaya MRI tulang belakang di RS Dr. Suyoto belum berubah, sejak Februari 2018, September 2018, dan terakhir Oktober 2019. Besar biayanya Rp. 1.900.000,-.

Sekedar informasi, MRI di RS Suyoto jadwalnya tidak setiap hari ada. Tahun lalu, saya merasa RS Dr. Suyoto ini termasuk yang sangat sulit dihubungi, karena tidak pernah diangkat. Akhirnya saya datangi langsung untuk membuat jadwal MRI. Namun saat ini RS Dr. Suyoto ini sudah lebih mudah dihubungi. Untuk penjadwalan MRI bisa di nomor 021-73884000 ext. 2101, atau bertanya tentang jadwal dan biaya di ext. 2101 (radiologi).

Di hari yang sudah ditentukan saya menemani ibu saya untuk melakukan prosedur MRI. Beliau diminta mengganti bajunya, lalu masuk ke dalam ruangan khusus yang saya bisa lihat dari balik kaca. Kurang lebih setengah jam beliau berbaring di sana. Saya pun pernah menjalani proses MRI di RS Dr. Suyoto bulan Februari 2018. Selama kurang lebih setengah jam saya berbaring, petugasnya menyalakan murotal Quran yang menenangkan, hingga saya pun tertidur. Alhamdulillah jadi tidak tegang ataupun takut.

MRI dari RS Dr. Suyoto baru bisa diambil 7 hari kalender setelah proses MRI dilakukan. Ini agak berbeda dengan MRI RS Premier yang sudah terkomputerisasi dan bisa langsung dilihat hasilnya. Ada harga ada rupa memang benar adanya, hehehehe. Setelah satu minggu saya pun kembali ke RS Dr Suyoto untuk mengambil hasil. Setelah hasil MRI saya terima, saya pun menjadwalkan kembali konsultasi dengan Dr. Phedy.

Menurut Dr. Phedy, berdasarkan hasil MRI nya benar ada massa. Namun termasuk kategori massa apakah itu, solusinya hanya dioperasi, diangkat massanya dan dibersihkan, kemudian dibiopsi untuk memastikan. Walaupun menurut beliau, dari potret hasil MRI beliau sangat yakin kalau massa tersebut adalah nanah, sehingga diagnosanya adalah Infeksi TB Tulang, dan bukan tumor/kanker. Pada posisi ini ibu saya level ketakutannya sudah meningkat tajam. Melihat ketakutan ibu saya, dokter phedy menawarkan untuk mengkonfirmasi dengan pengecekan laboratorium. Jika benar infeksi maka hasil LED nya akan tinggi, sedangan massa tumor akan menunjukkan hasil sebaliknya.

Akhirnya kamipun pulang malam itu dengan membawa surat rujukan laboratorium. Atas pertimbangan biaya, kami memutuskan melakukan pengecekan lab di Prodia Bintaro. Pengecekan di lab Prodia saat ini sudah digitalisasi, hasil langsung dapat diakses melalui website mereka dengan menginput login dan password. Jika hasil mau diambil langsung ke lokasi prodia juga bisa, tapi saya memilih untuk mengakses dan mencetak sendiri di rumah.

Karena kondisi ibu saya pada saat itu sangat takut dengan kemungkinan-kemungkinan yang terburuk, saya melakukan konsultasi hasil lab berdua dengan kakak saya ke dokter Phedy, tanpa ibu saya. Dan dari hasil lab, Dr. Phedy menyatakan bahwa ibu saya menderita TB Tulang, dan penanganannya berupa operasi untuk membersihkan nanah infeksi, sekaligus pemasangan pen. Malam itu juga kami menanyakan biaya operasi di RS Premier Bintaro. Saya tidak hafal persis angkanya, namun kurang lebih 120jutaan untuk tindakan saja, belum kamar, obat, dll.

Sekali lagi, karena pertimbangan biaya, akhirnya kami memutuskan untuk mengubah arah  pengobatan yang tadinya pribadi, sekarang mencoba melalui BPJS. Setelah melakukan pencarian informasi, diketahui RS Fatmawati sebagai salah satu rumah sakit pusat untuk penanganan Tulang Belakang, dan dr. Phedy adalah salah satu dokter yang bekerja di sana. Sehingga kami memutuskan untuk melakukan pengobatan menggunakan BPJS, dengan harapan dapat dioperasi dengan dokter yang sama, Dr. Phedy, di RS Fatmawati.

Perjalanan mengenai BPJS akan saya ceritakan di postingan selanjutnya ya 😀

Perjalanan TB Tulang : Awal Mula

Awal tahun 2018, saya sempat mengalami penyakit HNP (saraf kejepit) di L5 tulang belakang, yang menyebabkan saya harus dipapah saat berjalan. Alhamdulillah dengan izin Allah SWT, setelah terapi kurang lebih sebulan, saya bisa beraktifitas normal, walaupun masih suka merasakan rasa sakit di pinggang.

Kira-kira bulan Juni 2018, setelah lebaran, ibu saya mengeluhkan sakit pinggang ketika bangun tidur. Saya pada saat itu berasumsi beliau mengalami permasalahan yang sama. Beberapa kali saya anjurkan untuk berobat ke dokter rehab medik saya, namun beliau menolak. Hingga akhirnya beliau merasa sangat kesakitan di bulan September, sekitar tiga bulan kemudian. Dan akhirnya memberanikan diri datang ke puskesmas untuk berobat.

Di puskesmas, dokter merujuk untuk ke dokter spesialis orthopedi. Agak berbeda ketika saya sebelumnya awalnya ke dokter syaraf lalu ke rehab medik. Namun akhirnya kami ikuti saja, mencoba mendaftar ke spesialis orthopedi di RS IMC Bintaro. Namun dikarenakan ibu saya sudah terlampau kesakitan, dan dapat jadwal dokter IMC masih 1-2 minggu kemudian, akhirnya kami putuskan membawa ibu saya ke RS Premier Bintaro. Saat itu hanya berdasarkan kondisi ibu yang sudah kesakitan, kami mendaftar langsung ke dokter siapapun yang praktek di malam itu.

Kami berobat di RS Premier Bintaro dengan dokter Phedy, spesialis Orthopedi. Belakangan kami baru tau bahwa memang beliau spesialis spine (tulang belakang). Karena ternyata orthopedi ada bermacam-macam, tangan, kaki, dll. Alhamdulillah dimudahkan oleh Allah SWT langsung bertemu beliau.

Kepada dr. Phedy saya jelaskan kondisi ibu saya. Awalnya beliau menyarankan untuk cek BMD (Bone Mineral Density), karena ada dugaan osteoporosis. Namun setelah saya sampaikan kepada dokter, bahwa almarhumah nenek saya di akhir hayatnya sempat terbaring bertahun-tahun karena ada permasalahan dengan tulangnya, beliau menyarankan untuk dirontgen juga selain dicek BMD.

Malam itu juga ibu saya menjalani cek BMD dan rontgen tulang belakang. Proses di Premier cukup cepat, hasil langsung terkomputerisasi, sehingga bisa langsung dianalisa oleh dr Phedy. Dari hasil rontgen tampak bahwa ada 1 atau 2 tulang ibu saya yang sudah rusak, tidak lagi sempurna kotak bentuknya. Dan tampak ada sesuatu yang menyelimuti di daerah tulang tersebut. Kalau saya tidak salah ingat pada saat itu menurut dokter, kemungkinannya ada tiga : nanah karena infeksi TB, tumor jinak, atau tumor ganas. Namun apapun itu, harus diperdalam pemeriksaan dengan MRI, karena rontgen hanya bisa membaca tulang, bukan jaringan. Akhirnya ibu saya pun dirujuk untuk melakukan MRI. Untuk kelanjutan hasil MRI nya ada dipostingan berikutnya ya… 😀

Cerita Toilet Training (3): Tips Sukses

Cerita Toilet Training sebelumnya bisa di baca di sini dan di sini ya.

Gaya banget ya judulnya. Bukan ngerasa expert atau gimana ya, tapi saya pribadi merasa bangga banget sama diri sendiri karena proses TT yang berlangsung cukup mudah, dan saya terlibat penuh di dalamnya. Ada beberapa hal yang menurut saya membantu banget dan berandil besar mensukseskan proses TT lancar kurang dari dua minggu. Saya coba share ya, siapa tau bisa berguna buat yang sedang atau akan TT:

  1. Sosialisasi

Buat saya, metode parenting sosialisasi itu penting banget. Dalam hal apapun, tidak hanya TT.  Anak kecil akan lebih mudah melakukan atau menghadapi sesuatu yang sudah diinformasikan sebelumnya. Metode sosialisasi tidak hanya saya gunakan di event-event penting kehidupan Sekar seperti menyapih dan TT, tapi juga ketika mau ke dokter, atau mau ke tempat-tempat baru (menjelang mudik, ke DuFan, ke Taman Safari dll).

Karena menurut saya penting bagi mereka memahami apa yang akan mereka hadapi. Bahkan terkadang sosialisasinya tidak hanya sebatas lisan, tapi juga dalam bentuk visual. Ketika akan ke Dufan saya perlihatkan video-video di youtube tentang istana boneka, komidi putar, bahkan sampai ke badut-badut Dufan. Biar lebih terasa real aja, apa yang akan dihadapi.

Dan sejauh ini saya merasa metode ini sangat efektif, terbukti pada saat sampai ke hari H event itu berlangsung, tidak pernah ada penolakan. Saat menyapih saya bahkan sosialisasi hampir setiap hari selama 6 bulan, dan langsung berhasil di hari pertama menyapih. Dan dalam kasus TT, sosialisasi saya berikan kurang lebih 3 bulan sebelumnya.

  1. Tentukan tanggal mulai

Tanggal mulai ini penting sebagai trigger ketika akan mengingatkan anak. Karena anak-anak belum paham konsep tanggal, maka dilahkan dimodifikasi ke konsep yang lebih kongkrit. Misalnya dalam kasus saya tanggal mulai yang kongkret adalah: pulang dari Jogja. Atau waktu dulu menyapih, konsep kongkritnya adalah: tiup lilin ulang tahun ke-2. Konsep kongkrit itu dipakai jadi dasar untuk mengingatkan pada hari H, misalnya: adek udah nggak pake pampers lagi ya, kan kita udah pulang dari Jogja. Buat saya poin ini penting dan satu paket sama poin yang pertama

  1. Kesiapan Mental

Kesiapan mental yang dimaksud di sini ibunya ya, bukan anaknya, hehehe. Ibu yang akan menjalani proses TT harus siap mental akan kecolongan alias ngompol. Namanya anak baru belajar, pasti nggak langsung berhasil. Jadi si ibu harus siap. Siap dalam arti secara emosi tidak akan terganggu pun bila si anak ngompol. Karena ketika ibu nya belum siap secara emosi, pasti akan dengan mudah kesal, marah, ketika kecolongan ngompol. Dan jika sang ibu malah bereaksi marah terhadap sang anak, menurut saya malah akan semakin mempersulit proses TT nya.

  1. Konsisten dan jangan menyerah

Konsisten ini terkait sama poin kesiapan mental sih. Jadi kalau ternyata prosesnya kurang mulus dan mengalami banyak kecolongan, tetep harus konsisten menjalani proses TT. Saya di dua hari pertama kecolongan ngompol samoai 7-8 kali, tapi alhamdulillah nggak menyerah tetep melanjutkan perjuangan, dan alhamdulillah hari ke-3 sudah menurun drastis jadi cuman 1 kali kecolongan. Jadi harus tetep semangat yaaa.

 

Kira-kira itu poin-poin penunjang keberhasilan saya TT kemarin. Mudah-mudahan bisa membantu ya J

 

Cerita Toilet Training (2): Proses dan Metode

Untuk cerita latar belakang mulai Toilet Training, bisa di baca di sini ya.

Hari Rabu 28 Juni 2017 pagi saya pulang dari Jogja dan sampai di rumah mertua di Ciputat sore harinya. Sejak sampai di rumah mertua, saya ingatkan kembali ke Sekar bahwa kita udah pulang mudik, dan mulai besok udah nggak pake pampers yaa. Besoknya sorenya, Kamis 29 Juni 2017, setelah sampai kembali ke rumah Ibu saya, tempat kami tinggal sehari-hari,  dimulailah proses TT.

Saya memutuskan langsung full TT siang-malam. Awalnya mau siang dulu aja deh, malam mau pakai pampers. Tapi kok rasanya tanggung ya setengah-setengah. Akhirnya diputuskan langsung full aja.

Metode TT yang saya lakukan di malam hari, saya prepare perlak lebar di bawah sprei. Jadi kalau pun kejadian ngompol, nggak harus sampe jemur kasur. Sebelum tidur,  Saya ajak Sekar ke kamar mandi untuk pipis dulu. Lalu pada bulan pertama, saya bangun tengah malam sekitar jam 12-2 untuk gendong Sekar ke kamar mandi agar pipis di toilet. Lalu setelah saya solat subuh juga saya gendong lagi ke kamar mandi untuk pipis, dalam kondisi Sekar masih merem.

Alhamdulilllah, dengan metode TT malam seperti itu, dalam satu bulan pertama TT, saya hanya kecolongan 3 kali di malam hari. Itu pun semua karena salah saya sih, sayanya ketiduran duluan , jadi lupa bawa Sekar ke kamar mandi sebelum tidur. Masuk bulan kedua, saya sudah nggak bangun tengah malam lagi, hanya bangunin Sekar di jadwal subuh aja. Sejak mulai proses TT di akhir Juni sampai hari ini (kurang lebih 3 bulan), total saya hanya 5 kali kecolongan di malam hari.

Kalau metode TT yang saya lakukan pada siang hari, saya  akan bawa Sekar ke kamar mandi hampir setiap satu jam sekali. Setiap kali berhasil bawa ke kamar mandi dan BAK di toilet, selalu saya puji, dan diingetin untuk bilang kalau berikutnya mau pipis. Lalu, kecolongan nggak? Oh tentuu, hahahaha. Satu setengah hari pertama, saya kecolongan Sekar ngompol selama 7-8 kali. Alhamdulillahnya ngompolnya di atas lantai keramik, jadi nggak susah dibersihkan.

Setiap kali kecolongan, saya hanya bilang “Nggak papa, lain kali bilang ya kalau mau pipis”. Kalau Sekar ngompol pun, nggak pernah saya marahin. Karena buat saya proses belajar itu harus bebas dari tekanan. Jadi emang sama sekali ga mau marah-marah ke Sekar kalau sampe kejadian ngompol.

Satu-dua hari pertama saya kecolongan cukup banyak sekitar 7-8 kali sekar pipis di celana. Masuk hari ketiga, menurun drastis hanya 1 kali ngompol sehari. Dan di hari keempat, hari terakhir sebelum masuk kantor kembali, kalau saya tidak salah ingat masih kecolongan ngompol sekali, namun ada kemajuan sudah bisa bilang kalau mau pipis. Sudah bisa merasakan keinginan pipis, dan mengutarakannya. Sehingga keberhasilannya nggak ngompol tidak hanya karena sering diajak sama saya ke kamar mandi, tapi juga karena sudah bisa komunikasi.

Seminggu ke depannya, setiap saya pantau sepulang kerja, info dari ART jaraaaaang sekali ngompol. Hanya ada beberapa hari dalam seminggu sempat kecolongan ngompol sekali per hari. Masuk minggu ketiga, udah nggak ngompol sama sekali, alhamdulillah.

Walaupun di rumah sudah full tanpa pampers sepanjang hari, namun di awal-awal saya masih suka pakaikan pampers kalau bepergian, untuk jaga-jaga. Namun setelah sebulanan, ketika tau Sekar walaupun pake pampers nggak mau pipis dan malah cenderung nahan pipis hingga sampai pulang ke rumah, akhirnya saya putusin untuk full tanpa pampers juga ketika ke luar rumah.

Pertama full no pampers ke luar rumah waktu saya ketemuan sama sahabat 13 Agustus lala. Saya makan siang kurang lebih 5 jam. Selama 5 jam itu Sekar dua kali minta pipis di toilet, dan alhamdulillah nggak ada kecolongan. Sejak saat itu saya sudah nggak pakaikan pampers lagi walaupun ke luar rumah. Cuma Ninin nya masih sesekali suka pakaikan pampers kalau Sekar TPA di musholla, soalnya di musholla kan full karpet. Jadi agak takut kenapa-kenapa.

Kalau diresumekan proses TT nya Sekar hingga lulus, nggak sampai dua minggu. Alhamdulillah bersyukur banget di usia 33 bulan sudah lulus TT dengan cukup cepat dan tanpa drama. Ada banyak baby yang lulus TT bahkan di usia yang lebih muda dari Sekar, di bawah 33 bulan. Dan saya perlu mengapresiasi ibu-ibu hebat tersebut, kereeeen bangeett!  Tapi buat yang masih berjuang juga nggak usah khawatir ya. Nggak perlu terbebani dengan keberhasilan ibu-ibu lain. Insya Allah akan lulus TT pada waktunya.

Next postingan saya mau share beberapa poin penting yang menurut saya sangat membantu keberhasilan proses TT dengan cepat. Till next post ya!

Cerita Toilet Training (1): Latar Belakang

Akhirnyaaahh nulis lagi! Hahahaha. Liat postingan terakhir, 7 bulan yang lalu. Padahal niat nya mau bikin postingan review drama korea yang udah di tonton, eh males bener ya. Hehehe. Tujuh bulan kemudian udah banyak banget drakor yang ditonton. Nanti deh buat postingan tersendiri. Mudah-mudahan terlaksana ya, aminnn. Sekarang mau cerita tentang Toilet Training (TT) aja deh yang alhamdulillaaaaah dilalui dengan cepet, dan tanpa drama.

Jadi, Sekar itu sudah pup di toilet sejak lama, rasanya dari usia setahunan. Awalnya karena ninin-nya emang telaten, tiap muka-muka ngeden muncul, langsung dibawa ke toilet. Dan alhamdulillah lama-lama bisa bilang sendiri “mau ee” setiap kali mau bab, dan hampir sama sekali ga pernah pup di pampers lagi umur setaunan.

TT untuk BAB beres, lalu mulailah kepikiran buat TT BAK atau pipis di toilet. Cuma, dari info baca-baca artikel, katanya sebaiknya sapih (WWL) dan TT tidak dilakukan bersamaan. Satu-satu dulu, gitu. Dan tambahan info dari temen, mendingan sapih dulu baru TT. Karena ada pengalaman temen yang anaknya udah lulus TT sebelum 2 tahun, TT nya bubar setelah disapih. Karena sejak disapih kalau malam minum susu/air putihnya jadi lebih banyak, eh jadi ngompol deh.

Berbekal info-info di atas, akhirnya di pertengahan 2016, sekitar umur 1,5 tahunan, saya mantap memutuskan agar Sekar disapih pada saat ulang tahun yang ke-2 di bulan Oktober 2016. Lalu baru dilanjutkan proses TT di awal 2017.

Namun realisasinya karena ada rencana mudik cukup lama ke Jogja di bulan Juni-Juli, dan mempertimbangkan kemungkinan “kecelakaan” alias ngompol di rumah saudara yang tentunya horor abis, akhirnya saya putusin TT nya setelah pulang mudik aja di bulan Juli 2017.

Pertimbangan lainnya kenapa akhirnya nggak jadi di awal tahun 2017 adalah setelah pulang mudik, saya masih stay di rumah sekitar 4 hari karena ART masih cuti mudik. Jadi saya punya waktu 4 hari untuk bener-bener in charge sendiri dalam proses TT, tanpa merepotkan ninin (ibu saya) atau mbak ART. Jadi diputuskanlah  TT setelah pulang mudik dari Jogja.

Alhamdulillah proses sapih berjalan mulus di bulan Oktober 2016. Cerita sapih saya bisa dibaca di sini ya. Lalu akhirnya sekitar bulan Maret 2017, setelah membeli tiket kereta mudik, akhirnya dimulailan fase sosialisasi TT. Hampir tiap hari saya sampaikan ke Sekar yang intinya kita akan lebaran ke Jogja naik kereta. Pulang dari Jogja, dede udah nggak pake pampers lagi ya, kan udah gede. Kalau mau pipis bilang ya: “Bunda, mau pipis”. Sosialisasi itu saya ucapkan terus menerus sampai akhirnya kita mudik ke Jogja.

Setelah pulang dari Jogja bagaimana? Lanjut di postingan berikut aja ya..

Perjalanan Menyapih Sekar: Part 1

Aaaahhh kenapa bayi itu cepet banget gedenya sihh?? Tiba-tiba udah mau disapih aja, hikshiks.. Sebagaimana ibu-ibu kekinian, saya juga cita-cita banget dong bisa berhasil menyapih dengan cinta, atau istilah kerennya weaning with love. Naaah, saya mau merekam perjalanan dan proses menyapih Sekar di sini. Apakah saya berhasil? Mari kita lihat saja, hahahaha…

Dari apa yang saya baca-baca di internet, menyapih itu bukan proses semalam. Maka mengikuti berbagai artikel yang saya baca, saya sudah mulai proses menyapih jauh jauh hari. Karena satu dan lain hal, saya dan suami bersepakat untuk menyapih di hari ulang tahun Sekar yang ke-2. Maka 6 bulan sebelumnya, di usia 18 bulan saya sudah mulai proses sounding tentang sapih ke Sekar.

Berdasarkan artikel di internet pula, saya tau kalau soundingnya harus spesifik. Anak kecil belum paham benar konsep apa itu ulang tahun, apa itu anak gede. Dari artikel yang saya baca umumnya menyarankan kegiatan spesifik seperti tiup lilin, sebagai acuan penanda agar anak lebih paham. Dan itu pula yang saya lakukan. Sejak usia 18 bulan, hampir setiap hari sebelum tidur, sambil nenen saya akan mengelus kepalanya sambil menatap mata Sekar dan berkata “Dek, nanti kalau ulang tahun, dede tiup lilin. Kalau sudah tiup lilin, berarti dede udah jadi anak gede. Kalau anak gede itu, nggak nenen ya, karena nenen itu untuk dedek bayi”.

Tiga bulan sebelum Sekar ulang tahun, saya dapat informasi baru bahwa menyapih nggak boleh mendadak berhenti total. Oleh karena itu saya coba bertahap dulu, dengan menyapih siang saat weekend ketika saya ada di rumah. Kalau weekday mah emang kan pasti nggak nenen karena saya nya ngantor. Lalu kalimat soundingnya pun ditambah dan lebih spesifik yaitu “Nanti tanggal 01 Oktober sudah mulai berhenti nenen siang, dan 24 oktober pas ulang tahun dan tiup lilin, udah nggak nenen sama sekali”.

01 Oktober 2016

Hari pertama menyapih siang ini berat, Jendral! Hahahaha. Berat ke saya, karena Sekar jadi sulit bobo siang -___________-“ padahal bobo siang weekend itu berharga BANGET buat saya. Saya sampe hampir nyerah bukan karena kasian sama anaknya, tapi kasian sama saya yang teler,hahahaha. Kepikiran di kepala “aduh kasih aja deh biar kita bisa bobo bareng berdua”, tapi alhamdulillah saya berhasil menang melawan diri saya sendiri *tebar confetti*

02 Oktober 2016

Berbekal pengalaman melelahkan menjalani hari tanpa tidur siang, saya curhat sama kembaran saya. Dan dia memberikan tips mujarab yaitu “quiet time”, di mana kita bilang sama anak kalau mau tidur. Kalau dia mau, ayo tidur bareng-bareng, tapi kalau nggak biarin aja main sendirian. Dan quiet time saya terapkan hari itu, alhamdulillah ya dapet bobo cantik setengah jam. Walaupun setelah setengah jam saya dibangunin sama Sekar, dan ujung-ujungnya ngegendong Sekar sampai bobo, dan lanjut kita bobo bareng.

03 Oktober s.d 23 Oktober 2016

Selama tiga mingguan ini, alhamdulillah bisa dibilang lancar. Kalau pagi hari bangun minta nenen, pasti langsung saya tanggapi dengan “Tuh lihat udah terang. Kalau sudah terang nggak nenen ya, nenennya nanti malam” alhamdulillah biasanya langsung lupa. Kalau di mobil perjalanan siang pun selalu disiasati dengan cemilan yang banyak, biar nggak ingat minta nenen. Weekend siang hari ketika saya di rumah pun alhamdulillah terbantu dengan quiet time. Biarin aja anaknya sibuk sendiri, bundanya bobo, hahahaha. Ujung-ujungnya kalau dia sudah sangat mengantuk akan bangunin saya, dan minta dipeluk atau tepuk-tepuk, alhamdulillah bobo sendiri.

Sempat ada satu insiden drama nangis agak kejer, karena pada hari minggu itu saya ada deadline email yang harus diselesaikan, dan Sekar nggak mau sama ayahnya. Tapi alhamdulillah selama total tiga minggu, yang parah pakai nangis sekali itu aja. Selama tiga minggu pula saya intens sekali sounding kalimat pengingat berhenti nenen, yaitu “Nanti tanggal 24 Oktober Sekar ulang tahun. Kalau ulang tahun, nanti Sekar tiup lilin. Kalau udah tiup lilin berarti udah anak gede. Anak gede itu nggak nenen. Karena nenen itu buat dedek bayi”. Saking seringnya, sampai Sekar hafal, hahahaha. Mudah-mudahan bukan hanya hafal teori, tapi juga prakteknya nanti ya…

Karena ceritanya panjang, lanjutannya di postingan berikutnya yaa.. 😉