Perjalanan Menyapih Sekar: Part 1

Aaaahhh kenapa bayi itu cepet banget gedenya sihh?? Tiba-tiba udah mau disapih aja, hikshiks.. Sebagaimana ibu-ibu kekinian, saya juga cita-cita banget dong bisa berhasil menyapih dengan cinta, atau istilah kerennya weaning with love. Naaah, saya mau merekam perjalanan dan proses menyapih Sekar di sini. Apakah saya berhasil? Mari kita lihat saja, hahahaha…

Dari apa yang saya baca-baca di internet, menyapih itu bukan proses semalam. Maka mengikuti berbagai artikel yang saya baca, saya sudah mulai proses menyapih jauh jauh hari. Karena satu dan lain hal, saya dan suami bersepakat untuk menyapih di hari ulang tahun Sekar yang ke-2. Maka 6 bulan sebelumnya, di usia 18 bulan saya sudah mulai proses sounding tentang sapih ke Sekar.

Berdasarkan artikel di internet pula, saya tau kalau soundingnya harus spesifik. Anak kecil belum paham benar konsep apa itu ulang tahun, apa itu anak gede. Dari artikel yang saya baca umumnya menyarankan kegiatan spesifik seperti tiup lilin, sebagai acuan penanda agar anak lebih paham. Dan itu pula yang saya lakukan. Sejak usia 18 bulan, hampir setiap hari sebelum tidur, sambil nenen saya akan mengelus kepalanya sambil menatap mata Sekar dan berkata “Dek, nanti kalau ulang tahun, dede tiup lilin. Kalau sudah tiup lilin, berarti dede udah jadi anak gede. Kalau anak gede itu, nggak nenen ya, karena nenen itu untuk dedek bayi”.

Tiga bulan sebelum Sekar ulang tahun, saya dapat informasi baru bahwa menyapih nggak boleh mendadak berhenti total. Oleh karena itu saya coba bertahap dulu, dengan menyapih siang saat weekend ketika saya ada di rumah. Kalau weekday mah emang kan pasti nggak nenen karena saya nya ngantor. Lalu kalimat soundingnya pun ditambah dan lebih spesifik yaitu “Nanti tanggal 01 Oktober sudah mulai berhenti nenen siang, dan 24 oktober pas ulang tahun dan tiup lilin, udah nggak nenen sama sekali”.

01 Oktober 2016

Hari pertama menyapih siang ini berat, Jendral! Hahahaha. Berat ke saya, karena Sekar jadi sulit bobo siang -___________-“ padahal bobo siang weekend itu berharga BANGET buat saya. Saya sampe hampir nyerah bukan karena kasian sama anaknya, tapi kasian sama saya yang teler,hahahaha. Kepikiran di kepala “aduh kasih aja deh biar kita bisa bobo bareng berdua”, tapi alhamdulillah saya berhasil menang melawan diri saya sendiri *tebar confetti*

02 Oktober 2016

Berbekal pengalaman melelahkan menjalani hari tanpa tidur siang, saya curhat sama kembaran saya. Dan dia memberikan tips mujarab yaitu “quiet time”, di mana kita bilang sama anak kalau mau tidur. Kalau dia mau, ayo tidur bareng-bareng, tapi kalau nggak biarin aja main sendirian. Dan quiet time saya terapkan hari itu, alhamdulillah ya dapet bobo cantik setengah jam. Walaupun setelah setengah jam saya dibangunin sama Sekar, dan ujung-ujungnya ngegendong Sekar sampai bobo, dan lanjut kita bobo bareng.

03 Oktober s.d 23 Oktober 2016

Selama tiga mingguan ini, alhamdulillah bisa dibilang lancar. Kalau pagi hari bangun minta nenen, pasti langsung saya tanggapi dengan “Tuh lihat udah terang. Kalau sudah terang nggak nenen ya, nenennya nanti malam” alhamdulillah biasanya langsung lupa. Kalau di mobil perjalanan siang pun selalu disiasati dengan cemilan yang banyak, biar nggak ingat minta nenen. Weekend siang hari ketika saya di rumah pun alhamdulillah terbantu dengan quiet time. Biarin aja anaknya sibuk sendiri, bundanya bobo, hahahaha. Ujung-ujungnya kalau dia sudah sangat mengantuk akan bangunin saya, dan minta dipeluk atau tepuk-tepuk, alhamdulillah bobo sendiri.

Sempat ada satu insiden drama nangis agak kejer, karena pada hari minggu itu saya ada deadline email yang harus diselesaikan, dan Sekar nggak mau sama ayahnya. Tapi alhamdulillah selama total tiga minggu, yang parah pakai nangis sekali itu aja. Selama tiga minggu pula saya intens sekali sounding kalimat pengingat berhenti nenen, yaitu “Nanti tanggal 24 Oktober Sekar ulang tahun. Kalau ulang tahun, nanti Sekar tiup lilin. Kalau udah tiup lilin berarti udah anak gede. Anak gede itu nggak nenen. Karena nenen itu buat dedek bayi”. Saking seringnya, sampai Sekar hafal, hahahaha. Mudah-mudahan bukan hanya hafal teori, tapi juga prakteknya nanti ya…

Karena ceritanya panjang, lanjutannya di postingan berikutnya yaa.. 😉

Cerita Kelahiran Sekar : Part 3

Mari kita lanjutkan, dan semoga ini part terakhir, hahahaha.

Setelah ngeden tiga kali, putri pertama saya pun lahir ke dunia. Saya mendengar tangisannya yang kencang sekali pada pagi itu. Reaksi pertama saya: legaaaaaaaaa. Legaaaaaa banget karena dalam satu detik seluruh rasa sakit kontraksi itu hilang. Hilang blassss ketika bayi sudah keluar. Kata pertama yang saya ucapkan adalah “Alhamdulillah”. Saya nggak nangis dan merasa terharu atau apa, murni hanya perasaan lega karena perjuangan selesai, rasa sakit sirna sudah. Tapiiiiiiiiiiiii…tet tot! Ternyata saya salah.

Nggak lama setelah lahir, setelah tali pusat dipotong, Sekar langsung di bawa oleh salah satu bidan ke ruangan melahirkan untuk dibersihkan. Sedangkan bidan satu lagi, melakukan tindakan pembersihan rahim. Dan ternyataaaaaaa itu sakit! Awalnya sih sakit nya nggak seberapa ya, perut saya diteken teken. Tapi nggak lama dokter kandungan saya, Dr Nina Afiani, datang. Beliau pun minta maaf karena terlambat, dan mengambil alih proses.

Nah, menurut beliau, pembersihan rahim oleh bidan belum sempurna, dan kalau tidak bersih ada kemungkinan pendarahan. Jadi beliau membersihkannya dengan….mengobok-obok rahim sayah! Luar biasa itu rasanya, hahahaha. Dan setelah akhirnya sesi obok-obok selesai, saya kira penderitaan saya berakhir, tapi ternyata sekali lagi saya salah. Masih ada penderitaan lanjutan yaitu: dijait!

Jadi setelah rahim saya dianggap sudah bersih, si dokter mau melakukan sesi jahit menjahit. Tapi tidak bisa dilakukan di dalam ruang perawatan. Entah karena panik atau heboh dll, yang harusnya mah saya dipindah ke bed antar, saya malah disuruh pindah naik kursi roda. Tapi pada saat itu saya iyain aja sih. Toh kan udah ga sakit kontraksi lagi, jadi udah bisa turun pelan-pelan ke kursi dan pindah ke ruang lahiran untuk dijahit.

Jadi, bagaimana rasanya dijahit? LUAR BIASAAAAA! Mungkin karena selama satu setengah jam terakhir sebelum Sekar lahir saya sibuk ngeden tanpa kontrol, miring kanan kiri angkat pantat dan segala hal yang dilarang, ditambah kepala sekar tiba-tiba udah nongol di bawah tanpa sempat ada pengguntingan resmi dari dokter/bidan, robekan saya itu udah ga bisa dideskripsikan. Hahahaha. Pokoknya si dokter ngobras nya lamaaaaaaaaaaaaa banget. Ada kali hampir satu jam. Dan selama hampir satu jam itu pula saya teriak-teriak Allahu Akbar.

Masih teringat rasanya di bawah sana, persis ketika sedang menjahit baju. Ketika jarum yang kita pegang sudah menembus kain, dan kita menarik jarum tinggi-tinggi untuk menarik benang. Persis seperti itu rasanya kulit saya di bawah sana ketika benang itu ditarik. BEUGH. SAKIT GILAAAAA. Dan itu rasanya lama bangeeett yeeee. Saya sampai nanya setengah marah ke dokter “Dokter ini kapan selesainya?” Dan si dokter jawab “Nanti saya bilang kalau sudah selesai saja ya Bu”. Saking dia sendiri ga tau kayaknya selesenya kapan, hahaha.

Yang lucu adalah, pada saat itu, keluarga kami belum ada yang tau kalau saya sudah melahirkan. Mama dan kembaran datang sekitar setengah enam langsung kaget waktu tahu saya sudah lahiran. Semua nggak ada yang memprediksi saya lahiran secepat itu. Pas mereka datang saya lagi mulai diobras, dan mereka sibuk sama bayi dong, saya yang berjuang dilupain -_____-“

Untungnya nggak lama Dokter mengarahkan ke suster agar dimulai proses IMD, sambil saya dijahit. Walaupun nggak murni IMD banget sih, karena Sekar udah pake baju singlet biar ga kedinginan, plus nyusunya langsung dimasukin ke puting, nggak nunggu dia dapet sendiri. Tapi proses mulai nyusu pertama, dan alhamdulillah langsung pinter nyusunya, lumayan membuat lupa rasa sakit dijahit. Walaupun yaaaa, tetep aja jerit-jerit, tapi seenggaknya jerit sambil liat bayi lucu yang lahap menyusu lumayan membantu. FYI aja yah, pada saat saya kontrol jahitan dengan dokter, saya tanya berapa total jahitan saya di bawah sana. Dan dokternya menjawab “Tiga puluh mah ada kali Bu” JENGJENG. Luar biasaaaaa… Pantesan lama banget, hahahaha.

Sebenernya proses melahirkannya sudah selesai, tapi ada satu tambahan yang ingin saya ceritakan. Beberapa jam setelah di kamar, kondisi saya masih lemas. Karena dokter bilang saya sempat mengeluarkan cukup banyak darah, dan harus selalu dipantau agar tidak terjadi pendarahan. Ada satu titik di mana saya merasa sangat lelah, namun ternyata infus saya bermasalah, kalau nggak salah infusnya mampet. Lalu ketika suster datang untuk melihat infus dan memperbaiki posisinya, saya yang memang sangat trauma dengan infus, seketika menangis kejer ketika infus saya diutak-atik suster.

Semua yang ada di ruangan saat itu panik. Suster kemudian bertanya “Kenapa Bu, Ibu ada sakit di mana?” memastikan apa yang sebenarnya terjadi dengan saya. Karena saat itu memang saya masih masa observasi pendarahan, belum lewat masa kritisnya pasca lahiran. Saat itu saya cuman bisa nengok lemah ke arah kiri, tempat suami saya duduk dan kurang lebih berkata “Aku cuman pengen nangis”. Dan sebagai suami yang sangat memahami istrinya, suami saya bilang ke suster “Nggak papa, dia cuman pengen nangis aja”. Sayapun sambil masih nangis kejer menjelaskan ke suster, mamah saya, serta ibu mertua yang ada dalam ruangan “Dari semalam belum nangis. Kan kata mamah nggak boleh nangis”. Dan lalu meneruskan nangis kejer kurang lebih 15 menit.

Ya, saya memang tidak nangis setetes pun selama proses melahirkan, sejak induksi tablet pertama dimasukan, sampai detik itu, ketika tiba-tiba saya meledak tangis “hanya” karena posisi infus saya dibenarkan. Saya, yang semua orang kenal pasti bilang cengeng, berhasil tidak menangis bahkan pada saat-saat tersakit sekalipun. Kenapa? Karena doktrin si mamah.

Mamah saya, tau betul anaknya cengeng secengeng-cengengnya. Dari jauh hari beliau selalu berkata “Nanti jangan nangis ya, kalau kamu nangis nanti nggak ada tenaga”, berulang-ulang. Dan entah bagaimana, seperti terpatri dalam otak saya. Saya benar-benar tidak menangis sedikitpun, tapiiiiiii efeknya adalah ketika ter”sentil” masalah infus, saya meledak. Hahahaha. Pada saat itu, masih dengan kondisi menangis sesenggukan, saya sempat merajuk sambil menyalahkan mama dan berkata “Mama sih, ngelarang nangis”. Dan si mamah pun cuman menanggapi dengan senyum awkward, hahahaha. Tapi dipikir-pikir, pesan orang tua itu pasti ada benarnya. Mungkin kalau saya nangis semalaman, tidak cukup hanya mengejan tiga kali untuk mengeluarkan Sekar. Mungkin bisa puluhan kali, bahkan mungkin saya sudah kehabisan tenaga. Hikmahnya adalah, saran orang tua itu emang pasti untuk kebaikan anaknya J

Yah, demikianlah cerita panjang kelahiran Sekar. Untuk catatan, suatu saat nanti kalau lupa bisa jadi pengingat lagi. Mulai dari mendadak induksi, bukaan 1 ke 10 yang hanya 1,5 jam, lahiran di kamar rawat, obrasan puluhan jahitan di bawah sana, hingga ditutup dengan drama ledakan tangisan.

Begitulah kisah kelahiran Sekar, yang lahir di RSIA DHIA pada pukul 04.45 WIB pada tanggal 24 Oktober 2014, dengan berat 3120 gram, dan panjang 46,5 cm. Saya bersyukur pada Allah SWT selama 2 tahun ini dikaruniai anak yang sehat dan cerdas. Semoga menjadi anak sholehah yang cinta kepada Allah SWT, cinta ayah-bunda, dan seluruh keluarga besarnya, Amien.

 

 

 

Cerita Kelahiran Sekar : Part 2

Cerita part 1 nya di sini yaa…

Selama menunggu suami kembali ke RS, saya nyantai di kamar. Nyantai soalnya emang belom kerasa sakit apa-apa. Masih maenan hape, kirim kabar-kabar ke beberapa grup wa untuk ngabarin klo uda mulai induksi dan minta doa. Saya bahkan udah bikin template kabar lahiran buat dikirim nanti abis lahiran, hahahaha. Ohya, saya ambil kamar kelas 1 di RSIA Dhia, isi dua tempat tidur. Ketika saya masuk, sudah ada pasien operasi miom yang sedang pemulihan. Alhamdulillah nggak lama si mbak muda itu pulang, jadi saya berasa punya kamar VIP, bahkan dengan luas lebih gede, hehehehe.

Nggak lama suami datang, ngasih koper trus saya mandi bersih-bersih. Nonton, maen hape, ngaji, dll. Masih santai banget lah pokoknya. Nggak lama dapet kabar dari mamah, katanya nggak jadi dateng lagi malam ini, karena kebetulan ada jadwal pengajian malam jumat, biar sekalian didoain. Dan datengnya besok pagi aja katanya, toh kemungkinan besar baru lahir besok. Saya sih nggak papa juga, malah lebih nggak stress, hahahaha.

Sorenya bapak ibu mertua saya datang ke rumah sakit menengok hingga selepas maghrib, dan menjelang isya pulang kembali ke rumah. Awalnya saya minta suami anterin bapak ibu pulang, karena saya masih ngerasa baik-baik aja. Eh tapi malah ga dibolehin sm mertua, hehehe.

Jam 7 malam, saya dicek bukaan lagi, tapi belom nambah dong masih bukaan satu. Krik..krik..krik.. Selama 6 jam induksi tablet pertama, saya emang ngerasa baik-baik aja sih, kayak hari-hari kemarin. Sakit-sakit dikit ada lah, tapi buat saya masih bisa ditoleransi. Jadi kayaknya induksinya belum mempan gitu. Karena induksi tablet pertama belum berpengaruh, jam 8 malam saya dimasukan induksi tablet yang kedua, sekaligus dipasang infus. Aduh, saya tuh paling trauma sama infus. Saya sampe nanya ke susternya kok udah pasang infus kan baru induksi tablet? Dan katanya ini infusnya cairan aja, belum dimasukkan induksi infus. Yowes lah, saya terima aja.

Masuk induksi kedua pun, belum ada pengaruh signifikan. Dan dengan hasil evaluasi yang bilang bukaannya belum nambah, saya pun inisiatif jalan-jalan muterin lorong rumah sakit, siapa tau ngaruh, hahaha. Daann udah muterin ratusan kali sambil baca-bacaan Al Quran pun, rasanya belum ngaruh, sedih ya. Hahahaha. Akhirnya cape muter-muter, balik aja deh masuk kamar. Nah saya lupa di sekitar jam berapa, mulai ada kayak rembesan banyak dari bawah. Takut yang rembes adalah air ketuban, saya panggil susternya. Dicek sama susternya pakai kertas, katanya bukan air ketuban. Tapi suster pesen agar stay di tempat tidur aja nggak usah jalan – jalan lagi. Beberapa saat setelah itu, mulai tuh ada rasa sakit yang lumayan lumayan. Sempet yang remes-remes suami beberapa kali gitu deh, hahaha. Tapi karena masih ilang timbul, alhamdulillah sih masih bisa tidur.

24 Oktober 2014

Ketika sudah jam 02.00 wib, saya dicek lagi oleh susternya. Daaaaaaaaan masih pembukaan satu aja lagi dong. Akhirnya setelah konsultasi telpon dengan dokter, induksi infus pun diberikan sama suster. Dan, perjalanan melahirkan sesungguhnya pun dimulai, hahahahaha.

Induksi infus ini emang dahsyat yaaa efeknya. Dari awal dokter saya memang sudah bilang akan sangat sakit, makanya beliau memberikan induksi tablet dulu untuk rangsangan awal. Karena dikhawatirkan kalau langsung infus dan nggak berhasil, mau nggak mau harus langsung caesar. Dan benar aja, si induksi infus ini rasanya LUARRRR BIASAAAAHHH. Abis diinfus, blasssss nggak bisa tidur. Pokoknya luar biasa deh. Saya cuman bisa teriak AllahuAkbar, Astaghfirullah sama meres-meresin tangan dan badan suami. Sakiiittt beneeerr pooooll!

Sekitar jam 03.00 wib, suster datang cek bukaan lagi. Daaaaaann, bukaannya nambah, jadi…… bukaan 1 longgar. APAAAAAAAAAAH?? Bukaan 2 aja beloom??? Saya sampe nggak percaya lah, udah sakit kayak begini belom naek juga angka bukaannya? -____________-“ Dan lebih syok lagi pas susternya bilang “Ini masih lama bu, mungkin lahirannya nanti sore”. APPAAAAAAAHHHHHH? Sejam aja rasanya begini dan gue masih harus ngalamin sampe ntar sore????? Campur aduk deh rasanya, luarrr biasahhhh.

Saat itu saya ngadu banget rasanya kesakitan, dan pengen ngeden. Eh ndilalah si suster bilang ngeden aja bu nggak papa. Padahal mah saya tau sebenernya teorinya kalo belom bukaan lengkap nggak boleh ngeden. Ini masih bukaan 1 longgar bawaannya mau ngeden kenceng-kenceng. Tapi karena dikasih lampu ijo, yaudah. Abis susternya keluar, selama satu setengah jam kemudian, setiap saya mau teriak ya saya teriak. Setiap saya mau ngeden ya ngeden, mau ngangkat pantat ya ngangkat, ngadep kanan kiri bolak balik bodo amat udah nggak inget teori. Kayaknya semua yang dilarang saya lakuin deh, hahaha. Saya masih inget rasanya aliran entah air atau darah di bawah sana, setiap kali saya ngeden sepenuh hati. Tapi kan tadi kata suster boleh, jadi bodo amat gue maunya ngeden, ntar salahin aja susternya, hahahaha.

Nah harusnya kan dicek lagi jam 04.00 ya, tapi kayaknya susternya ketiduran jadi kelewat nggak ngecek  -______-“ Dan sekitar pukul 04.30 wib, suami ngeliat saya udah kesakitan banget, dan banyak sekali darah keluar dari bawah, akhirnya dia inisiatif manggil suster. Dia bilang ke suster kalau sudah banyak banget darahnya. Daaaaaaannnn ketika si suster ngecek apa yang terjadi? Suster dengan kagetnya ngomong “bukaannya udah lengkap?” Jeng jeeengg! Hanya satu setengah jam dari bukaan 1 longgar, saya udah bukaan 10. Reaksi pertama saya saat itu bilang: alhamdulillah. Karena saya langsung kepikiran nggak usah nunggu sampe sore, hahahaha.

Tiba-tiba suami nyeletuk “Itu, kepalanya, Sus?” Ebuset, udah mau nongol aja tuh kepala bayi. Mendadak udah harus lahiran, susternya panik banget! Kondisi saya saat itu masih di ruang rawat inap, bukan di ruang lahiran. Dan bed yang saya tempati, ternyata lebih lebar dari pintu kamar rawat. Mungkin perawat nya panik atau apa, bukannya saya dipindah ke bed antar (yang sebenernya ada di RS), saya ditanya bisa nggak pindah ke kursi roda? Ya saya jawab nggak bisaaaaaaaaaaa! Orang lagi sakit-sakitnya dan pengen ngeden masa disuruh pindah ke kursi roda.

Kepanikan lainnya adalah karena bukaan lengkapnya mendadak, dokter kandungan saya pun baru dikasih tau saat itu juga. Saya disuruh nahan aja dong, sampe dokternya dateng. Padahal dokternya rumahnya di BSD -____________-“ Ya jelas saya protes nggak bisaaaa nahan susteeeeeerrrr. Lagian udah lengkap juga kan yaaa. Akhirnya apa yang terjadi, suster mutusin saya lahiran di kamar rawat aja. Karena suster jaga ini sebenarnya adalah bidan, jadi akhirnya diproses kelahiran dengan suster/bidan Ika dan Puji yang malam itu bertugas. Suster yang satu stay di ruangan, sambil yang satu lagi sibuk ambil peralatan. Heboh deh pokoknya, hahahaha.

Pas udah siap alat-alatnya dan saya dibolehin ngeden, saya pun memposisikan kaki seperti yang udah diajarin di senam hamil, dan alhamdulillah masih ingat cara mengejan yang benar sesuai teori yaitu sambil melek dan tidak bersuara. Alhamdulillah, hanya dengan ngeden tiga kali, Sekar lahir dengan selamat ke dunia.

Selanjutnya, saya ceritain di part 3 aja yah, udah panjang banget soalnya, hehehehe..

Cerita Kelahiran Sekar : Part 1

Dalam rangka memperingati proses hidup mati yang dialami dua tahun yang lalu, tepat hari ini saya mau posting cerita suka duka melahirkan tanggal 24 Oktober 2014 yang lalu. Walaupun sejujurnya, ada beberapa ingatan yang sudah memudar, mungkin terkikis usia, hahaha. Nah makanya biar ada tertulisnya, yuklah diposting aja ya…

09 Oktober 2014

Hari ini hari terakhir kerja sebelum cuti melahirkan. Sebenernya due date saya masih tanggal 29 Oktober, tapi karena kebetulan cuti tahunan masih banyak, sekalian diabisin aja. Dan jatohnya tanggal mulai cuti melahirkannya kurang lebih satu minggu sebelum HPL. Kondisinya juga perut udah gede banget sih, cape aja pengennya gogoleran aja di lantai rumah, hahahha.

10 Oktober 2014

Jadwal kontrol ke dokter kandungan, dan ketika dicek dalam, udah bukaan satu sempit katanya dokter. Wah alhamdulillah seneng banget. Emang saya berulang kali berdoa sama Allah SWT agar lahirannya lebih awal dari HPL, karena kembaran saya sudah membeli tiket kepulangan ke New Zealand di tanggal 31 Oktober. Pengennya mah dia sempet lihat ponakannya sebelum pulang ke negeri domba.

11 Oktober – 22 Oktober 2014

Setelah tau udah bukaan satu sempit, tambah semangatlah jalan pagi sore nya, biar merangsang cepet keluar gituh. Tapih oh tapih, di kontrol berikutnya masih dong bukaan satu sempit. Belom nambah, huuhuuu… Yowes, sabar saja kitah.

23 Oktober 2014

Pagi itu agak berbeda dari biasanya. Saya merasa pergerakan si debay berkurang dari biasanya. Cukup khawatir juga, karena beberapa minggu sebelumnya, teman seperjuangan hamil saya harus kehilangan bayinya karena terlambat dibawa ke dokter kandungan setelah mengalami gejala yang sama. Saya pun akhirnya kirim wa ke dokter, cerita bahwa pergerakan bayi berkurang. Saya nanya dulu, perlu kontrol sekarang, atau besok saja hari Jumat yang memang sesuai jadwal kontrol mingguan. Si dokter yang kebetulan praktek jam 11 siang itu, langsung memerintahkan saya datang ke RS saat itu juga. Karena suami sudah berangkat kerja, akhirnya saya diantar mamah naik taksi ke RSIA DHIA. Suami sendiri setelah saya informasikan bahwa akan ke RS, langsung ijin pulang dari kantor dan menyusul ke RS.

Sampai di ruang praktek, dicek USG, alhamdulillah sehat semua nggak ada masalah. Dan dicek dalem udah turun panggul, tapi teteeeeeupp masih pembukaan satu sempit. Dua minggu aja dong di pembukaan satu ga nambah-nambah. -______-“

Tapi walaupun usg dan cek dalem oke, dokter masih khawatir dengan pergerakan yang kurang. Saya lalu disuruh tes, lupa nama tesnya. Tapi tesnya harus setelah makan. Jadi saya sama si mamah makan ayam bakar Mas Mono yang enak banget itu di perempatan duren (info penting), lalu kembali untuk menjalani tes.

Saya diajak suster masuk ke ruang tempat melahirkan, berbaring di ranjangnya dan perut saya dibuka ditempelin alat-alat. Selain itu saya diberikan sebuah alat, yang diinstruksikan untuk dipencet setiap kali ada gerakan dari bayi. Lalu saya pun ditinggal selama kurang lebih 15 menit (kalau nggak salah). Dan selama itu pula, ada kertas yang muncul dari alat utama, dengansudah tertuliskan grafik-grafik. Setelah selesai, saya diantar suster ke ruang kontrol, dan kertas grafik tersebut diberikan ke dokter Nina. Alhamdulillah saat itu suami sudah sampai di RS, sehingga kontrol hasil tes nya sudah ditemani oleh suami.

Menurut dokter, berdasarkan hasil grafik, detak jantung dede bayi bagus, normal. Namun memang yang dikhawatirkan adalah pergerakannya. Karena saya hanya memencet tombol selama 3 kali, sedangkan minimal gerakan normal sebanyak 5 kali selama tes berlangsung. Pada saat itu juga dokter menyarankan agar dede bayi harus segera diproses untuk dilahirkan, baik secara normal maupun caesar.

Karena masih pembukaan satu sempit, bila ingin segera lahiran dengan proses normal, jalan satu-satunya adalah dengan proses induksi. Kalau tidak ingin di induksi, opsi lainnya adalah caesar. Dokter Nina dengan detil menjelaskan proses induksi yang akan dijalani seperti apa. Bahwa induksi pertama diberikan dalam bentuk tablet melalui vagina, 2 kali 6 jam. Dan apabila belum berhasil akan dilanjutkan dengan induksi melalui infus. Dokter Nina pun menegaskan bahwa ketika induksi dipilih, ada 50-50% kemungkinan lahir normal, maupun caesar. Karena rasa sakit induksi menurutnya, berkali lipat dibandingkan sakit kontraksi alami, dan pada kondisi tertentu ada kemungkinan baik ibu maupun bayi tidak kuat, dan harus segera dilakukan tindakan operasi.  Dan saya diberikan kesempatan untuk memilih, tanpa diarahkan kepada pilihan tertentu.

Karena keinginan saya dari awal memang lahiran normal, setelah diskusi dengan suami, bismillah kita putuskan untuk menjalani proses induksi. Kemudian sekitar pukul 13.00 wib, saya pun dimasukkan induksi tablet pertama oleh dokter. Informasi yang disampaikan dokter, induksi tablet durasinya 6 jam. Setelah 6 jam nanti direview lagi tindakan selanjutnya apa.

Setelah dimasukkan induksi, saya sempat nanya dong ke dokter, boleh pulang dulu nggak? Trus diketawain, hahaha. Katanya kalau udah diinduksi sakit bu, nggak bisa kemana-mana. Yowes lah, akhirnya setelah administrasi beres dan dapat kamar, suami pulang ambil koper dan mobil sekaligus antar mamah, sementara saya di kamar rumah sakit sendirian.

Selanjutnya, saya ceritain di post berikutnya aja yah, udah panjang soalnya, hehehehe..

Travel Wish Tixton: Liburan Impian dengan Mudah dan Murah

Kalau ada yang nanya siapa yang pengen liburaaaaaaan?? Saya pasti ngacung paling tinggi. Hahahaha. Rasanya udah lama sekali nggak liburan bertiga dengan suami dan Sekar. Terakhir liburan itu bulan Mei lalu, kami staycation di salah satu hotel di Tangsel, itu pun bisa liburan karena memanfaatkan jatah rekreasi kantor + tambahan diskon voucher barter kantor. Mungkin kalau nggak ada kedua poin itu, kita tahun ini belom liburan bertiga sama sekali, sedih ya. Hahahaha.

Tapi emang kalau boleh jujur, habis selesai bangun rumah, cicilan utang serta pengeluaran ini itu rasanya banyak beneeer, jadi mau nggak mau jatah liburan masih harus ditahan. Tapiiii walaupun sampai sekarang belum ada dananya untuk liburan lagi, bukan berarti saya nggak punya Liburan Impian dong. Dari sebelum Sekar lahir sampai sekarang tempat Liburan Impian saya masih sama: Batu, Malang. Cita-cita banget deh pergi ke sana, dan ajak Sekar jalan-jalan.

Kenapa sih pengen banget ke Batu, Malang? Alasannya simpel sih, karena tujuan wisata nya BANYAK! Jadi cukup dengan dateng ke satu kota, bisa merasakan berbagai jenis obyek wisata. Dan dari sekian banyak tujuan wisata, hampir semua review yang saya baca positif. Ada beberapa nih lokasi incaran saya kalau suatu saat ada rejeki umur dan dana untuk kesana, di antaranya:

Jatim Park 2

Di dalam area Jatim Park 2 yang berdiri di lahan seluas 14 hektar ini, terdapat Batu Secret Zoo (yang disebut-sebut lebih bagus daripada Singapore Zoo!),  Museum Satwa, dan Eco Green Park. Dari beberapa review yang saya baca di beberapa blog, ketiganya merupakan 3 wahana andalan Jatim Park 2, sangat recommended untuk didatangi. Cita-cita saya banget lah ke Batu untuk mendatangi ketiga tempat ini.

Museum Angkut

Di Museum Angkut ini kita bisa melihat berbagai koleksi moda transportasi, mulai dari yang ditarik hewan sampai dengan transportasi menggunakan tenaga listrik. Saya sih sebenernya ingin kesini bukankarena hobi otomotif, tapiiiii karena tempatnya instragamable! Cetek banget ya alasannya, hahaha. Tapi beneran deh, ngiler banget liat foto-foto yang saya lihat di berbagai postingan blog. Tempatnya kece banget!

Batu Night Spectacular

BNS adalah obyek wisata yang beroperasi pada malam hari. Menyajikan puluhan wahana baik untuk anak-anak maupun dewasa, yang paling membuat saya tertarik mengunjunginya adalah lampion garden. Sesuai namanya, Lampion Garden adalah sebuah taman yang dipenuhi banyak lampion berbagai bentuk. Bagus banget deh lihat lampion warna warni di malam hari. Instragamable deh pokoknya, hahaha

Kusuma Agrowisata Batu

Kota Batu ini kan terkenal sebagai penghasil buah apel yang manis ya, saya tertarik banget ajak Sekar jalan-jalan menikmati udara segar dan sejuk, sambil merasakan pengalaman memetik apel langsung dari pohonnya. Pasti menyenangkan sekali.

Banyak ya tujuan wisata yang saya ingin datangi di Batu? Karena banyak, kalau dari perhitungan kasar saya, minimal tuh harus 3 malem nginep di Batu. Minimal loh! Lalu langsung setres mikirin biaya penginapan, hahahaha. Eits nanti dulu, saya kasih tau nih tipsnya biar nggak stres mikirin biaya penginapan berapapun lamanya kita menginap. Apa tuh tipsnya? Tipsnya adalaaaah: Travel Wish Tixton!

cara-kerja-tixton-1-768x597

Ada yang belum tau apakah itu Travel Wish Tixton? Sebelumnya saya ceritain dulu ya, bahwa sekarang ada situs penyedia layanan kamar hotel online bernama Tixton.com. Kelebihan e-commerce ini selain membantu memberikan harga hotel termurah, adalah memberikan opsi untuk menjual kembali kamar yang sudah dipesan dengan harga yang pantas. Fitur yang berguna banget menurut saya, karena bukan nggak mungkin karena satu dan lain hal kita nggak jadi menginap di kamar yang sudah dibayar. Nah, kalau Tixton Travel Wish itu sendiri, apa dong?

tixton

Travel Wish Tixton adalah cara mudah dapatkan harga TERMURAH di hotel Idaman kita. Melalui fitur ini, kita tinggal bilang deh ke Genie mengenai liburan impian kita, masukkan tujuan perjalanan, hotel idaman, serta tanggal perjalanannya. Lalu Tixton akan memberikan harga penginapan terbaik, yang digaransi lebih rendah dari sumber lain!

Daaaan bukan cuman itu keuntungannya loh. Selain dapat hotel lebih murah, ketika kita membeli hotel yang ditawarkan dari fitur Travel Wish Tixton selama periode perjalanan 01 Desember 2016 – 28 Februari 2017, kita  juga berkesempatan memenangkan berbagai hadiah dari Promo Wisata Tixton!

Cara mengikuti promo sangat mudah ya. Langsung saja buka situsnya di www.tixton.com. Masukkan kota tujuan mu beserta tanggal check in dan check out, lalu klik tombol cari kamar. Tixton akan menemukan Harga Hotel Termurah dalam hitungan detik saja. Jika harga yang ditawarkan sudah sesuai, tinggal menyelesaikan proses pembayarannya. Sangat mudah!

Akan ada tiket pesawat untuk 2 orang ke airport terdekat dari hotel tujuan serta uang tunai 5 juta untuk uang saku yang diundi untuk satu orang pemenang setiap bulannya. Banyak banget ya kemudahan dan keuntungan yang ditawarkan Tixton? Tunggu apalagi, ayo bilang langsung ke genie mengenai Wish Akhir Tahun Tixton-mu, dan menangkan berbagai hadiah dari Promo Wisata Tixton!

promo-wisata

 

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Lomba Blog “Liburan Impian” yang diselenggarakan oleh duniabiza.com bekerjasama dengan tixton.com

Milestone Sekar

Dalam rangka ulang bulan ke-23, dan diawali dari keresahan setelah membaca milestone nya ponakan di sini (resah karena kok saya juga ga punya catatan perkembangan anak sendiri), mau juga aah nulis milestone nya Sekar. Karena sesungguhnya cita-cita mulia merekam perkembangan anak dikalahkan oleh rasa malas, hahaha. Ada sih beberapa yang diposting di Instagram, tapi ya ga banyak. Setelah dicoba diingat2 kembali pun, akhirnya yang keinget seadanya, banyak yang skip. Hahahahaha. Maafkan Bunda mu nak. Mudah-mudahan kedepannya akan lebih rajin mencatat. Amiiiennn.

 

24 Oktober 2014 ~ Lahir ke dunia pukul 4.45 wib

29 Oktober 2014 ~ Tali pusarnya puput

5 Bulan ~ Bisa tengkurep sendiri, hobi nya makan kaki sendiri

6 bulan ~ Tumbuh dua gigi bawah

7 Bulan ~ Tumbuh satu gigi atas. Kalau didudukin udah nggak doyong. Udah bisa guling-guling, bahkan udah mulai merayap maju. Tangannya udah muter-muter kalau disuruh nari

8 Bulan ~ Mulai merangkak dan duduk sendiri

9 bulan ~ Tumbuh lagi satu gigi atas. Bisa lancar merangkak dan merangkak naik tangga sendiri. Merambat berdiri dan ke samping. Udah paham instruksi kisskiss, tunjuk tangan, dan berdoa. Udah lumayan banyak ngomong nda, ayah, iyah, apah, mam, nen, mbah, dan belo (nama kucing)

11 Bulan ~ Mulai melangkah

12 Bulan ~ Lancar berjalan

13 Bulan ~ Sudah punya keinginan apa-apa sendiri. Pake sepatu, baju, celana, ambil air minum, sampai ke nyapu lantai. Udah bisa pose foto andalah: taruh telunjuk di pipi.

14 Bulan ~ Mulai corat-coret di….badan

15 Bulan ~ Pose fotonya nambah: manyun, dan chibi-chibi

16 Bulan ~ Hobi utama: bukain semua tutup botol. Di bulan ini gigi nya lengkap sudah tumbuh semua 16. Tapi apa daya, saya skip ingetnya cuman sampai periode tumbuh gigi ke-empat, abis itu langsung 16. Hahahaha

17 Bulan ~ Udah bisa ngikutin gerakan sholat. Milestone nggak enaknya di bulan ini adalah masuk RS karena DB. Hiks

18 Bulan ~ Ini bulan-bulannya saya mulai agak khawatir lebay. Karena walaupun kosakata yang diketahui banyak (lebih dari 20 puluhan kata benda dan kata kerja), semua diucapkan hanya satu suku kata saja. Seperti mam (makan), mum (minum), nen (nenen), nda (bunda), dll. Padahal kan yah, kata artikel parenting target memasuki usia 2 tahun harus udah bisa merangkai dua kata seperti: mobil merah. Dan ya emang sayanya lebay. Masih 6 bulan lagi menuju 2 tahun, udah khawatir, hahahaha

21 Bulan ~ Di bulan ini, kekhawatiran mendadak sirna. Kenapa? Karena ngomongnya udah bawel dengan lengkap suku kata dalam satu kalimat panjang! *langsung tebar confetti*. Karena ngomongnya udah banyak, tambah pinter ngejawabnya. Senengannya ngomong “Dede ajah” kalau kita mau nyuapin/pakein baju, dll. Trus maunya milih sendiri baju/kerudung “Yang ini ajah”. Bawel deh pokoknya, hahahaha. Daaaann udah bisa nyanyi! Walau belom lengkap satu lagu, biasanya nyelesein kata terakhir. Dan tambahannya suka tiba-tiba bersenandung sendiri, hihihihi

22 Bulan ~ Hobi utama: pretend play masak-masakan, lengkap dengan kalimat-kalimat “Nih, teyoynya, Yah. Enaaak? Aciinn? Edees??

23 ~ Hobi utama: nanya “Ini Apa? Itu Apa? Apa tuh?”. Padahal udah tau pun, masih nanya, hahahaha. Di bulan ini, tambahan utamanya adalah bisa berhitung bahasa Inggris 1-10, nyanyi lagu-lagu, baca doa, dan ngaji surat lengkaaap! Berhitung bahasa Indonesia udah lama bisa (tapi sayah lupa kapan), bahasa Inggris baru bisa di bulan ini. Untuk lagu lumayan banyak perbendaharaan kayak Burung Kakak Tua, Cicak di Dinding, Kupu-kupu, Ayo Mandi, Naik ke Puncak Gunung, Tik-tik Hujan, Naik Kereta Api, daaaan bisa lagu sunda-Abdi Teh! Ngaji bisa sholawatan, ucapan tasbih yang di-lagu-kan, surat al-fatihah dan al-ikhlas. Baca doa mau tidur sama doa masuk kamar mandi lancarrr. Ohya, udah mulai bisa me-lagu-kan alif-ba-ta-tsa juga, thanks to Upin-Ipin, hahahaha. Aaahhh, anak ku semakin banyak ngomongnyaa!

Sekian. Cheers 🙂

 

 

 

 

Selebriti Sosial Media: Sebuah Analisa sebagai Pengingat bagi Saya sebagai Orang Tua

Disclaimer: Tulisan ini adalah analisa receh saya sebagai manusia biasa, yang sangat mungkin melakukan kesalahan. Tulisan ini murni pendapat pribadi tanpa adanya tujuan negatif terhadap siapapun.

Ini pembahasannya di luar kebiasaan banget ya, hahahaha. Tapi berangkat dari keresahan (tsaelah bahasanya) akan fenomena belakangan ini, tiba-tiba jadi sok menganalisis di otak, ya sekalian aja lah ditulis di sini, nambah-nambahin jumlah postingan hahahaha.

Jadi begini, beberapa waktu yang lalu kan dunia maya Indonesia dihebohkan dengan Awkarin dan Gaga ya. Yang belom tau mereka siapa, boleh cek mbah google. Pada waktu itu ya, kesimpulan saya mengerucut pada: “ABG bandel pada jamannya, dari dulu udah ada kok. Tapi yang membedakan, saat ini generasi internet. Bandel bukan cuman konsumsi lingkaran pertemanan semata, tapi juga konsumsi satu dunia. Itu yang bikin pe-er menjadi orang tua semakin berat.”

Kesimpulan saya berhenti di situ. Hingga kemarin membaca postingan ini. Dan yang pertama terlintas di benak adalah, “Ini siapa lagi siihhh Rachel Vennya dan Niko??”. Nggak gaul banget ya gw? Atau lebih tepatnya, udah beneran berumur kali ya saya, sampai nggak catch-up dengan pasangan yang dianggap sebagai #relationshipgoals tersebut? Hahahaha. Lalu saya pun kepo dong, cari tau melalui mbah google tercinta, dan akhirnya mulai memahami mereka itu siapa.

Lalu kemudian pertanyaan yang selanjutnya jadi terlintas adalah, “Kok bisa sih orang-orang seperti ini bisa terkenal? Mereka ini siapa?” Dan tentunya pertanyaan ini gue diskusikan dengan partner in crime gw dalam pergunjingan, nicole (bukan nama aslinya).  Diskusi ini berujung pada kesimpulan gue bahwa kenapa mereka terkenal, kenapa banyak followersnya, kenapa banyak pemujanya, adalah karena mereka menampilkan kehidupan yang tidak bisa dimiliki oleh para follower. Impian memiliki kehidupan yang tidak semua orang dapatkan, itulah jualannya para selebriti media sosial.

Dan ternyata setelah saya telaah, ternyata saya juga termasuk loh sebagai bagian dari para pemuja yang memimpikan kehidupan orang lain! Walaupun tentu saja selebriti sosial media impian saya bukanlah Awkarin, Gaga, atau Rachel Vennya. Setiap akun Instagram (di luar akun olshop dan artis yang sudah terkenal) yang saya follow secara sadar, adalah selebriti sosial media impian saya.

Sebagai contoh, saya mem-follow akun @iburakarayi @stellasutjiadi @fennymasudah, yang sangat kreatif dalam bidang parenting, akun @tiyarahmatiya @xanderskitchen yang jago masak. Kenapa saya follow? Karena mereka punya kemampuan yang tidak saya miliki, yang saya kagumi. Senang sekali rasanya melihat bagaimana kreatifnya Mba Stella membuat berbagai permainan untuk anaknya, Daffa. Atau melihat bagaimana parenting skill Mba Iput sebagai ibu dengan dua anak, Raka dan Rayi. Dan tentunya saya hobi juga melihat berbagai jenis makanan hasil olahan Mba Tiya, serta hasil bakingan Ci Xanders.

Kalau melihat paragraf sebelumnya, rasanya tidak ada hal yang mengkhawatirkan ya, nampak wajar dan tidak salah punya selebriti sosial media impian. Memang wajar kok, tapiiii, justru di sini saya mau menjelaskan kenapa ada kata impian yang saya sisipkan. Alasan pertama jelas, karena kondisi saya (atau para followers) tidak memiliki hal-hal yang dimiliki para selebriti sosial media tersebut. Kedua, kondisi  tersebut memunculkan keinginan atau impian untuk memiliki hal yang sama. Dan ketiga, pada beberapa orang, impian tersebut diwujudkan dalam kenyataan. Kalau kembali lagi ke contoh yaitu diri saya sendiri, maka saya sudah sampai alasan ketiga. Karena suka melihat para selebriti sosial media, trus ingin juga memiliki kemampuan yang sama, mendorong saya membuat berbagai permainan kreatif untuk Sekar, maupun beberapa kali mengeksekusi resep makanan.

Lalu, berarti punya selebriti sosial media impian, hal yang positif dong? Nah, menjawab pertanyaan ini yang agak tricky. Jawabannya bisa iya, bisa tidak. Tergantung kepada, hal apa dalam kehidupan para selebriti sosial media tersebut yang kita impikan? Kalau selebriti sosial media impian saya mah, alhamdulillah rasanya yang positif semua kan ya. Mudah-mudahan, hahahaha. Namun kalau kembali ke nama-nama di awal, Awkarin, Gaga, Rachel Vennya, kita harus menganalisa kembali hal apa dalam kehidupan mereka yang diinginkan para dedek-dedek ABG tanggung?

Nah, kebetulan kalau untuk kasus mereka, menurut analisa pribadi saya dan jeung Nicole, rasanya hal-hal tersebut lebih banyak masuk ke kategori negatif. Kehidupan remaja yang kaya raya, bergelimpangan harta, travelling ke berbagai negara, gaya hubungan pacaran yang di luar norma umum, lingkaran pertemanan yang  bebas dari segi tindakan maupun ucapan, kebebasan dari pengawasan orang tua, dan dengan semua itu membuat mereka memiliki banyak followers dan pemuja, adalah hal-hal yang menjadi “jualan” mereka. Hal-hal tersebut yang membuat mereka dipuja, yang membuat mereka digemari.

Lalu apakah hal tersebut salah? Tidak. Bahwa mereka menjalani kehidupan yang diimpikan orang lain, tentu bukan salah mereka. Hak mereka memamerkan itu semua. Namun ada potensi berubah menjadi salah ketika para pemuja tersebut masuk ke alasan ketiga, yakni ketika impian tersebut diwujudkan dalam kenyataan.

Alhamdulillah yah, kalau ternyata Rachel Vennya bisa menginspirasi dedek ABG untuk berfikir “Wah, gue mau bikin bisnis olshop ah kayak Acel tuh keren banget abis kondisi keuangannya terpuruk, bisa sukses karena olshop obat pelangsing”. Namun akan jadi perlu perhatian lebih, ketika seorang dedek ABG tanggung berpikir “Gw mau PDA sama pacar gue ah, bodo amat kata orang. Awkarin aja keren banget bisa kayak gitu di mana-mana dan diposting, malah tambah banyak followersnya.” Atau “Ngapain lah gue belajar susah-susah. Cari contekan ujian juga ga bakal ketauan. Toh Awkarin ga mendadak dibatalin lulus SMA nya walaupun sedunia udah tau dia nyontek pas UN”. Atau “Biasa aja kali jaman sekarang ngomong anj**g, gak liat tuh si Awkarin yang ngomong macem-macem aja followersnya banyak”.

Ketika yang diimpikan dari para selebriti sosial media sampai bisa menggerakan para pemuja melakukan hal yang sama namun konteksnya negatif, di situlah titik yang merubah keseluruhan fenomena ini menjadi hal yang salah.

Analisa ini kemudian mengantarkan saya pada pengingat bagi diri saya sendiri sebagai orang tua. Yaitu pertama, kenalilah siapa idola anak kita, khususnya pada zaman ini adalah para selebriti sosial media.Haramlah hukumnya jadi orang tua yang gaptek sosmed di jaman seperti saat ini. Kalau mau tau langkah-langkah menjadi ibu jaman sekarang, panduan action plan nya ada di artikel nya Mbak Lei sang idolaku yang ini.

Kedua, pahami apa daya tarik para selebriti sosial media tersebut, apa yang anak kita impikan dari kehidupan mereka. Dan yang ketiga, berhati-hati dalam bereaksi terhadap informasi poin satu dan dua. Kalau hal yang diimpikan dari para selebriti sosial media arahnya positif, dukung mereka sepenuhnya agar bisa mencapai apa yang dimiliki oleh para selebriti sosial media tersebut. Namun kalau hal nya negatif, bantu beri pemahaman bahwa hal tersebut tidak baik, dan tidak perlu ditiru.

Gampang? TENTU TIDAAAAK. Hahahaha ketawa miris. Banyaaak yaaaa pe-er menjadi orang tua. Tapi berhubung saat ini selebriti impian Sekar baru sebatas Pororo dan Sherrif Callie, paling jauh ya Sekar mimpi mau naek kuda. Dan itu gampang lah bisa gue bantu dukung dengan dibawa ke Giant Bintaro, muterin Giant cuman 20 rebu. Jadi untuk saat ini, gue masih amaaaaan. Gak tau deh 10 tahun lagi. Hahahahahahaha.

 

Sekian. Cheers 😉