Perjalanan TB Tulang: Prosedur BPJS – RS IMC Bintaro

Kembali di cerita perjalanan TB Tulang ibu saya. Posisi terakhir ibu saya sudah dianjurkan untuk melakukan operasi pasang pen, dan biopsi oleh Dr. Phedy, dengan besar biaya tindakan di RS Premier Bintaro kalau tidak salah sebesar 120jutaan, belum termasuk biaya ruangan rawat inap dan obat. Atas dasar biaya yang besar tersebut kami memutuskan mengubah haluan dari pengobatan biaya pribadi beralih ke BPJS.

Ibu saya sebelumnya telah mengantongi surat rujukan orthopedi dari Puskesmas Pondok Pucung. Akhirnya kami daftarkan ibu saya ke RS IMC Bintaro dengan berbekal surat rujukan tersebut. Prosedur pendaftaran pasien BPJS di RS IMC termasuk mudah karena untuk mendapatkan nomor antrian dapat melalui whatsapp. Nomor wa RS IMC Bintaro yang dapat dihubungi adalah +62 855-1200-071.

Dari pendaftaran lewat wa tersebut, ibu saya mendapat tanggal dan nomor antrian dokter. Kurang lebih 1 mingu dari hari saya melakukan pendaftaran melalui wa. Pada tanggal yang ditentukan, saya berangkat lebih awal RS IMC, dan jika pendaftaran sudah terselesaikan saya akan info ibu saya untuk datang, agar ibu saya tidak terlalu lama menunggu.

Saya mengambil nomor pendaftaran BPJS di mesin, lalu menunggu nomor kami dipanggil. Setelah nomor kami dipanggil, saya mendatangi petugas pendaftaran. Dari petugas tersebut saya diminta memberikan surat rujukan asli, dan fotokopi. Karena saya tidak mempersiapkan fotokopinya, saya terpaksa pergi dulu ke kantin untuk melakukan fotokopi. Setelah kembali ke pendaftaran dengan membawa fotokopian, saya diminta mengisi semacam form kronologis riwayat penyakit. Kemudian setelah form tersebut terisi, saya pun disuruh menunggu dipanggil oleh suster untuk pemeriksaan.

Tidak lama kemudian ibu saya datang, dan dipanggil pemeriksaan oleh suster untuk mengukur tekanan darah tinggi, berat, dan tinggi badan. Setelah selesai pemeriksaan dengan suster kami pun menunggu kembali hingga dipanggil oleh suster asisten dokter orthopedi.

Setelah dipanggil, saya Bersama ibu saya akhirnya masuk ke dalam ruangan dokter. Saat itu kami datang sudah membawa hasil rontgen di RS Premier Bintaro, dan hasil MRI RS Dr. Suyoto. Dari pemeriksaan fisik dan pembacaan hasil, dokter orthopedi mendiagnosa hal yang sama dan merujuk ibu saya untuk diperiksa lebih lanjut di Rumah Sakit Tipe B, dan RS yang kami pilih adalah RS Medika BSD. Kalau tidak salah ada 1-2 pilihan rumah sakit lain, tapi saya lupa nama RS nya.

Dokter orthopedi akhirnya membuat surat rujukan, dan suster orthopedi mengarahkan untuk membawa surat rujukan ke bagian pendaftaran. Setelah saya memberikan surat rujukan ke bagian pendaftaran, kemudian petugas menginput rujukan ke dalam system BPJS online dan mencetak surat rujukan untuk ke RS Medika BSD.

Beberapa hal yang harus diperhatikan menurut saya jika baru menjalani prosedur BPJS ke RS Tipe C pertama kalinya:

  1. Bawa semua dokumen dalam kondisi asli DAN fotokopi. Kartu BPJS, surat rujukan faskes 1, KTP, bahkan KK jika perlu. Bawa aja semua dokumen aslinya, dan jangan lupa siapkan fotokopinya.
  2. Jika sudah dapat surat rujukan ke RS tipe berikutnya yang ditandatangani dokter, jangan lupa diinformasikan ke petugas pendaftaran. Karena petugasnya akan menginput ke system BPJS nya, sehingga di system sudah tercatat akan dirujuk ke mana
  3. Karena proses antri yang cukup menyita waktu, jika memungkinkan sebaiknya pasien tidak berobat sendirian, dan ditemani.

Sementara sampai sini dulu ya. Postingan selanjutnya akan saya ceritakan proses BPJS di RS Medika BSD yang sangat melelahkan dan membuat kapok, hehehe.. Sampai jumpa…

 

 

Perjalanan TB Tulang : Diagnosa

Oke, saya lanjutin cerita tentang TB Tulang ibu saya ya.. Postingan sebelumnya ada di sini

Malam itu, berbekal surat rujukan MRI kami pulang. Info dari suster MRI tidak bisa dilakukan langsung harus dengan perjanjian, dan saat itu juga sudah terlampau larut, sehingga kami memutuskan pulang. Setelah pulang, esoknya saya menelepon pihak RS Premier Bintaro untuk menanyakan biaya MRI. Info yang saya dapat biayanya 3,8juta, 2 kali lipat dari biaya yang saya keluarkan pada bulan Februari untuk MRI di RS Dr. Suyoto. Dikarenakan alasan biaya, akhirnya keluarga memutuskan untuk MRI di RS Dr. Suyoto. Biaya MRI tulang belakang di RS Dr. Suyoto belum berubah, sejak Februari 2018, September 2018, dan terakhir Oktober 2019. Besar biayanya Rp. 1.900.000,-.

Sekedar informasi, MRI di RS Suyoto jadwalnya tidak setiap hari ada. Tahun lalu, saya merasa RS Dr. Suyoto ini termasuk yang sangat sulit dihubungi, karena tidak pernah diangkat. Akhirnya saya datangi langsung untuk membuat jadwal MRI. Namun saat ini RS Dr. Suyoto ini sudah lebih mudah dihubungi. Untuk penjadwalan MRI bisa di nomor 021-73884000 ext. 2101, atau bertanya tentang jadwal dan biaya di ext. 2101 (radiologi).

Di hari yang sudah ditentukan saya menemani ibu saya untuk melakukan prosedur MRI. Beliau diminta mengganti bajunya, lalu masuk ke dalam ruangan khusus yang saya bisa lihat dari balik kaca. Kurang lebih setengah jam beliau berbaring di sana. Saya pun pernah menjalani proses MRI di RS Dr. Suyoto bulan Februari 2018. Selama kurang lebih setengah jam saya berbaring, petugasnya menyalakan murotal Quran yang menenangkan, hingga saya pun tertidur. Alhamdulillah jadi tidak tegang ataupun takut.

MRI dari RS Dr. Suyoto baru bisa diambil 7 hari kalender setelah proses MRI dilakukan. Ini agak berbeda dengan MRI RS Premier yang sudah terkomputerisasi dan bisa langsung dilihat hasilnya. Ada harga ada rupa memang benar adanya, hehehehe. Setelah satu minggu saya pun kembali ke RS Dr Suyoto untuk mengambil hasil. Setelah hasil MRI saya terima, saya pun menjadwalkan kembali konsultasi dengan Dr. Phedy.

Menurut Dr. Phedy, berdasarkan hasil MRI nya benar ada massa. Namun termasuk kategori massa apakah itu, solusinya hanya dioperasi, diangkat massanya dan dibersihkan, kemudian dibiopsi untuk memastikan. Walaupun menurut beliau, dari potret hasil MRI beliau sangat yakin kalau massa tersebut adalah nanah, sehingga diagnosanya adalah Infeksi TB Tulang, dan bukan tumor/kanker. Pada posisi ini ibu saya level ketakutannya sudah meningkat tajam. Melihat ketakutan ibu saya, dokter phedy menawarkan untuk mengkonfirmasi dengan pengecekan laboratorium. Jika benar infeksi maka hasil LED nya akan tinggi, sedangan massa tumor akan menunjukkan hasil sebaliknya.

Akhirnya kamipun pulang malam itu dengan membawa surat rujukan laboratorium. Atas pertimbangan biaya, kami memutuskan melakukan pengecekan lab di Prodia Bintaro. Pengecekan di lab Prodia saat ini sudah digitalisasi, hasil langsung dapat diakses melalui website mereka dengan menginput login dan password. Jika hasil mau diambil langsung ke lokasi prodia juga bisa, tapi saya memilih untuk mengakses dan mencetak sendiri di rumah.

Karena kondisi ibu saya pada saat itu sangat takut dengan kemungkinan-kemungkinan yang terburuk, saya melakukan konsultasi hasil lab berdua dengan kakak saya ke dokter Phedy, tanpa ibu saya. Dan dari hasil lab, Dr. Phedy menyatakan bahwa ibu saya menderita TB Tulang, dan penanganannya berupa operasi untuk membersihkan nanah infeksi, sekaligus pemasangan pen. Malam itu juga kami menanyakan biaya operasi di RS Premier Bintaro. Saya tidak hafal persis angkanya, namun kurang lebih 120jutaan untuk tindakan saja, belum kamar, obat, dll.

Sekali lagi, karena pertimbangan biaya, akhirnya kami memutuskan untuk mengubah arah  pengobatan yang tadinya pribadi, sekarang mencoba melalui BPJS. Setelah melakukan pencarian informasi, diketahui RS Fatmawati sebagai salah satu rumah sakit pusat untuk penanganan Tulang Belakang, dan dr. Phedy adalah salah satu dokter yang bekerja di sana. Sehingga kami memutuskan untuk melakukan pengobatan menggunakan BPJS, dengan harapan dapat dioperasi dengan dokter yang sama, Dr. Phedy, di RS Fatmawati.

Perjalanan mengenai BPJS akan saya ceritakan di postingan selanjutnya ya 😀

Perjalanan TB Tulang : Awal Mula

Awal tahun 2018, saya sempat mengalami penyakit HNP (saraf kejepit) di L5 tulang belakang, yang menyebabkan saya harus dipapah saat berjalan. Alhamdulillah dengan izin Allah SWT, setelah terapi kurang lebih sebulan, saya bisa beraktifitas normal, walaupun masih suka merasakan rasa sakit di pinggang.

Kira-kira bulan Juni 2018, setelah lebaran, ibu saya mengeluhkan sakit pinggang ketika bangun tidur. Saya pada saat itu berasumsi beliau mengalami permasalahan yang sama. Beberapa kali saya anjurkan untuk berobat ke dokter rehab medik saya, namun beliau menolak. Hingga akhirnya beliau merasa sangat kesakitan di bulan September, sekitar tiga bulan kemudian. Dan akhirnya memberanikan diri datang ke puskesmas untuk berobat.

Di puskesmas, dokter merujuk untuk ke dokter spesialis orthopedi. Agak berbeda ketika saya sebelumnya awalnya ke dokter syaraf lalu ke rehab medik. Namun akhirnya kami ikuti saja, mencoba mendaftar ke spesialis orthopedi di RS IMC Bintaro. Namun dikarenakan ibu saya sudah terlampau kesakitan, dan dapat jadwal dokter IMC masih 1-2 minggu kemudian, akhirnya kami putuskan membawa ibu saya ke RS Premier Bintaro. Saat itu hanya berdasarkan kondisi ibu yang sudah kesakitan, kami mendaftar langsung ke dokter siapapun yang praktek di malam itu.

Kami berobat di RS Premier Bintaro dengan dokter Phedy, spesialis Orthopedi. Belakangan kami baru tau bahwa memang beliau spesialis spine (tulang belakang). Karena ternyata orthopedi ada bermacam-macam, tangan, kaki, dll. Alhamdulillah dimudahkan oleh Allah SWT langsung bertemu beliau.

Kepada dr. Phedy saya jelaskan kondisi ibu saya. Awalnya beliau menyarankan untuk cek BMD (Bone Mineral Density), karena ada dugaan osteoporosis. Namun setelah saya sampaikan kepada dokter, bahwa almarhumah nenek saya di akhir hayatnya sempat terbaring bertahun-tahun karena ada permasalahan dengan tulangnya, beliau menyarankan untuk dirontgen juga selain dicek BMD.

Malam itu juga ibu saya menjalani cek BMD dan rontgen tulang belakang. Proses di Premier cukup cepat, hasil langsung terkomputerisasi, sehingga bisa langsung dianalisa oleh dr Phedy. Dari hasil rontgen tampak bahwa ada 1 atau 2 tulang ibu saya yang sudah rusak, tidak lagi sempurna kotak bentuknya. Dan tampak ada sesuatu yang menyelimuti di daerah tulang tersebut. Kalau saya tidak salah ingat pada saat itu menurut dokter, kemungkinannya ada tiga : nanah karena infeksi TB, tumor jinak, atau tumor ganas. Namun apapun itu, harus diperdalam pemeriksaan dengan MRI, karena rontgen hanya bisa membaca tulang, bukan jaringan. Akhirnya ibu saya pun dirujuk untuk melakukan MRI. Untuk kelanjutan hasil MRI nya ada dipostingan berikutnya ya… 😀

MILESTONE (46 month)

Akhirnya, bikin postingan lagi. Hahahahaha. Oh My God, I am too lazy too write. Sigh. Tapi kali ini dipaksakan ingin menulis sesuatu, karena cukup penting (buat sayah). Seperti yang tertulis di judul, mau nulis milestone nya Sekar. Saya tentu saja parah sekali dalam hal pencatatan perkembangan anak. Tapi beberapa hal ada yang cukup spesial, dan kayaknya bakal nyesel kalo nggak inget kapan kejadiannya. Dan berhubung bulan depan, 24 Oktober 2018, Sekar ultah yang ke-4, jadi yaudah lah nulis sekalian beberapa pencapaian di usianya yang MASIH 3 tahun ini (iye, tau kok sebenernya mepet udah mau ke-4 tahun, hahahaha).

Milestone pertama, Sekar nggak cadel lagi akhirnya di usia 41 bulan. Wohoooo! Tadinya dah pasrah ga tau bakal ampe kapan deh nih cadelnya, akhirnyah bisa juga ngomong R dengan baik dan benar. Ini pencapaian besarrrr buat saya makanya mesti dicatet.

Di bulan yang sama, saya menemukan bahwa Sekar bisa berhitung! Yes, you read it right, berhitung! Suatu sabtu, lagi males ga punya ide ngajak main, ada buku sama pensil. Iseng-iseng ngajak berhitung. Saya tulis angka-angka rendah (maksimal sebanyak jari di satu tangan), trus ditambah angka yang rendah juga. Trus saya ajarin, misalnya 3 +4, berarti di satu tangan itung tiga jari, lalu lanjutin hitung 4 jari sebelahnya. Dan surprisingly dia bisa, dan berminat! Jadi di satu halaman saya tulis awalnya sekitar 5 soal perhitungan sederhana, eh dia minta nambah lagi dong sampe akhirnya bilang cape di halaman ketiga. So, my baby can count at 41 months! Amazing! (maklumin yak kalo norak, namanya juga anak sendiri, hahahahaha). And I am proud to say that she can count because of me (karena banyak kemajuan lain kayak hafalan surat2 bukan diajarin sama saya, hahahahaha).

Honestly, agak bimbang juga awalnya, boleh ga sih diajarin sedini ini ngitung? Sempet komunikasi sama temen psikolog pendidikan segala, katanya yg lebih penting tuh konsep besar kecil, bukan penjumlahannya. Oh well, kayaknya sih konsep 5 lebih besar dari 3 Sekar udah cukup paham ya. Jadi yaudahlah saya terusin aja. Terusin ngasih kegiatan hitung2an dalam artian ditawarin, kalau dia mau ya hayu. Ntar kalo dia bilang cape, ya distop. Nggak yang dipaksain banget harus belajar berhitung tiap hari ya. Selama anaknya enjoy sih ya, dan lagian bisa ngabisin waktu lama cuman pake pulpen+kertas itu meringankan ibu2 sekali loh (beresinnya gampang, hahaha).

Usia 45 bulan, tepatnya 1 Agustus 2018, Sekar akhirnya masuk sekolah formal pertamanya, di PAUD YASQIN. Ga formal-formal amat sih, masuknya aja suka-suka, hahaha. Tapi beneran sekolah di sekolahan gituh, selama ini kan baru TPA di musholla aja sama les Ballet. Oh by the way, Sekar mulai TPA sejak Juli 2017, dan mulai Balet Februari 2018. Sejauh ini sempet ada masalah kurang diterima sama temen-temennya di PAUD, mungkin karena faktor masuknya ga bareng di awal tahun ajaran. Tapi alhamdulillah udah mulai dibantu sama gurunya, dan so far udah keliatan main bareng temennya, dan kalau ditanya selalu semangat terus masuk sekolah.

Dan milestone terbesar bagikuu di usia 46 bulan adalah……Sekar udah bisa membaca! #tebarconfetti Jadi ya awalnya, jujur saya agak kompetitif gitu baca blognya @annisast yang udah ngajarin Bebe belajar baca. Iyes, saya juga masuk kategori emak kompetitip, hahaha. Soalnya Bebe seumuran sama Sekar, hanya lebih tua beberapa bulan aja dari Sekar. Dan akhirnya saya ngikutin metodenya Icha yang nyelipin pembelajaran membaca sebelom tidur.

Saya lupa sih tepatnya mulai kapan, setelah baca postingannya Icha sih pastinya, tapi lupa juga kapan persis mulai ngajarinnya. Sebelum tidur dikit-dikit saya tanyain “B-A? BA” dsb. Kadang-kadang bisa, alhamdulillah. Kadang-kadang kalau salah jawabannya, saya anggep ya emang belom waktunya, ya ga dipaksain. Tapi sering saya tanya-tanyain biasanya sebelum tidur. Saya juga sambil bacain buku sebelum tidur suka nujuk kata pertama di awal paragraf, yang mudah dibaca, buat ngetes bisa ga baca suku kata awalnya. Atau kalau pergi kemanapun ada suku kata yang terpampang dalam huruf besar, suka saya tunjuk dan tanya bacanya gimana. Kalau bacanya bener alhamdulillah, kalau salah ya dikasih tau yang bener. Tapi masih sebatas satu suku kata aja (dua huruf).

Sampai suatu ketika di awal bulan September ini (atau malah akhir Agustus ya?), saya iseng dikte bertanya nggak hanya dalam satu suku kata (B-A: BA), tapi dalam satu kata yang terdiri dari dua suku kata (bingung ga? Hahahaha). Misalnya T-O? TO. P-I? PI. Sampe situ jawabnya bener, TO, dan PI. Tapi kalau saya lanjutin pertanyaannya jadi kalau digabung? Ngaco deh jawabnya. Bisa jadi POPI, POTI atau apalah pokoknya mah salah.

Terus saya kepikiran, mungkin karena didikte (hanya mendengar), dan dalam dua tahap diktenya. Setelah dikte dua huruf kedua, mungkin ga dia lupa tadi dua huruf pertamanya apa? Bisa jadi kan, kemampuan short term nya mungkin belum sampai. Saya pun ber-ide gimana kalau ditulis, bisa ga ya dia? Kalau ditulis kan tetep bisa dilihat dua huruf yang ditanya sebelumnya. Akhirnya saya tulislah di papan magnetik sejuta umat (ibu-ibu beranak rasanya punya ya):

T O  P I ?

Saya tulis gede-gede, dan setiap dua huruf digarisin, lalu diberi jarak ke dua huruf kedua. Trus saya tunjuk-tunjuk pake pulpen: T-O? TO. P-I? PI. Jadinya? Surprisingly, dia bisa baca TO PI! WAW MEJIK! Ya udah deh sejak saat itu semuanya excited, hampir tiap hari kayaknya, diajakin baca. Sama saya, sama ayahnya, sama nininnya. Cuman Atung (kakek) nya aja yang kurang setuju. Hahahaha. Saya mah selama anaknya mau, ya lanjut aja. Kalo anaknya dah protes, baru berhenti.

Lalu tiba-tiba 18 September kemarin saya punya ide baru. Gimana kalau bikin kalimat sederhana dari beberapa kata dengan dua suku kata? Saya coba lah tulis di papan tulis. Hasilnya? Bisa baca semua kalimatnya! Dan dia bahkan baca langsung tanpa saya mesti sebut huruf-hurufnya. Jadi beneran bisa aja gitu baca satu kalimat utuh. Kalimat yg saya buat:

BO LA     RO BI     BI RU

BA JU      SU SI     BA RU

PI TA       TI NI    BI RU

KU DA     TO BI   BA RU

Sempet ada yg melenceng gitu sih, bacanya nyebrang dari kalimat pertama ke kalimat kedua. Sekar awalnya baca kalimat kedua “Baju Tini Biru” harusnya kan “Baju Susi Baru”. Tapi akhirnya dia sadar sendiri kalau salah, dan benerin kalimatnya. Pada dasarnya bisa baca semua katanya, cuman pindah jalur aja, hahaha. Pada akhirnya dia bisa baca keempat kalimat tersebut langsung hanya dengan melihat ke papan, tidak dibantu di-eja hurufnya oleh saya. Masya Allah, terima kasih banyak ya Allah sudah memberikan kemudahan belajar membaca dan berhitung buat Sekar. Bertahap mau diajarin baca yang tiga huruf per suku kata, tapi pelan-pelan aja sih tentunya.

Tinggal nulis nih. Emang kayaknya paling males kalau megang pensil. Diajakin hitung, baca, heppi. Kalau nulis ga suka dia. Kayak nyambungin garis putus-putus, atau menulis huruf abjad/hijaiyah dari titik-titik gitu nggak mau, ya ga papa ga dipaksain. Ntar kalau suatu saat udah bisa, ku update deh postingannya ya. Sekian dulu deh, untill my next post yang entah kapan ya, hahahaha 😀

 

 

 

#Modyarhood: Konflik Anak-anak

Halo lagi! Masih dalam usaha mendapatkan tiket gratis nonton premiere #KularikePantai dari #Modyarhood-nya Mba Puty dan Mba Okke, saya membuat postingan kedua, hihihihi. Baca juga postingan pertama saya tentang #Modyarhood: Konflik Anak di Keluarga Besar di sini ya.

Bagi yang belum tahu, film Kulari ke Pantai ini besutan Miles Films loh, yang juga bikin film anak berkualitas lainnya seperti Petualangan Sherina, Laskar Pelangi, dan Sokola Rimba. Yuk diintip dulu trailer-nya, jaminan mutu kalau film garapan Miles Film, mah yaa… Makanya saya pengen banget dapet tiket nonton gratisnya, hahahaha.

Nah, kalau di postingan sebelumnya saya cerita pengalaman saya bersepupu waktu kecil dulu beserta konfliknya, kali ini mau cerita konflik bersepupu antar anak saya dengan anak kembaran saya ya.

IMG-20170807-WA0003_1.jpg

Saya saat ini punya seorang putri usia 4 tahun. Dan kembaran saya punya putri usia 6 tahun, dan putra usia jelang 2 tahun. Kembaran saya ini sudah 5 tahun menetap di New Zealand. Dan tahun lalu kembaran saya ini mudik ke Indonesia. Terakhir kali dia ke Indo pas saya melahirkan, 4 tahun yang lalu. Jadi anak saya ceritanya belum pernah ketemu sama sekali dengan kedua sepupunya, hanya tau via whatsapp call aja sehari-hari. Lalu gimana akhirnya ketika bertemu dan tinggal bersama kurang lebih sebulan?

Screenshot_2018-05-31-13-12-47_1

Hasilnya berantem mulu tiap hari ga pernah absen, hahahaha.. Saking seringnya sampe saya posting di Instagram untuk diabadikan. Seringnya alasan berantemnya ya kayak yang saya tulis di instagram di atas. Ditambah lagi topik utama tentunya adalah rebutan mainan. Sekar ngerasa sebagai yang “punya” rumah, biasa jadi anak tunggal, ketika kedatangan sepupunya masih belum bisa berbagi. Yowes lah kelar kalau udah berantem mah.

Kebetulannya nih (yang mana harus saya syukuri), saya kan sehari-hari kerja dan pulangnya baru malam, jadi nggak harus menghadapi langsung kericuhan tersebut, hahahaha. Tapiiii tiap hari lagi di kantor pasti ada aja telepon dari rumah laporan “Anakmu nangis niiihh” Hahahaha. Saya sih di kantor ketawa ya, tapi yang di rumah mau nangis kayaknya :p Kalau mereka berantem gitu, setau saya sih kembaran saya cukup strict ya ngadepinnya, yang salah ya salah. Nggak boleh rebut mainan kalau memang masih dimainin yang lain, harus bergantian. Dan kalau masih nangis juga ya ujung-ujungnya dipisahin jangan di dalam satu ruangan, hahaha.

Tapi mereka nggak selamanya berantem kok, banyak momen-momen sweet juga berdua (yang bontot mah ga ikutan berantem). Dan yang lebih sweet nya lagi, ketika kembaran saya sudah balik ke New Zealand, ada yang saling kangen gitu deh. Anak saya beberapa kali ngomong “Kangen Kakak Icha, Dede Rumi”. Dan ponakan saya bahkan sampai ngomong “Mau ke Indonesia aja, janji nggak akan berantem lagi sama dede Sekar”. Mudah-mudahan tahun ini atau tahun depan kembaran saya ada rejeki buat mudik lagi ke Indonesia. Dan harapannyaaa pas bocah-bocah ini bertemu udah lebih akur main barengnya yaaa, aminnn.

Sekian dulu postingan buat #modyarhood. Doakan saya menang ya, hihihi. Dan jangan lupa buibu anaknya diajak nonton #KularikePantai tanggal 28 Juni 2018 di bioskop yaaaa 😀

#Modyarhood: Konflik Anak di Keluarga Besar

Haloooohhh… Mari kita sapu-sapu dulu blog yang udah lama ditinggalin inih, hahahhaa..

Aduh, mau nulis blog dengan konsisten tuh butuh niat dan keinginan yang kuat sekali ya ternyata. Atau butuh reward, seperti alasan saya ngeblog kali ini, hahaha. Mau nyoba-nyoba peruntungan menulis, siapa tau dapet hadiah tiket premiere film Kulari ke Pantai dari #Modyarhood, project-nya Mba Puty dan Mba Okke.

Silahkan diintip-intip dulu trailer-nya di bawah ini. Inti kisahnya tentang perjalanan darat dengan mobil yang penuh tantangan dan situasi tak terduga,  antara Sam dan Ibunya, bersama dengan sepupunya Sam, Happy, yang karakternya jauh berbeda.

Saya udah rencana banget ngajak Sekar nonton film ini di bioskop, sejak dikasih tau sama suami trailer-nya sekitar bulan lalu. Pokoknya kudu nonton lah. Karena udah pengen banget ngajak Sekar nonton bioskop lagi, sedangkan pilihan film anak Indonesia sangat terbatas. Sedangkan kalau film luar kan Sekar belom bica baca subtitle. Jadi emang udah nungguin tanggal 28 Juni buat nonton ke bioskop. Dan pas tau ada hadiah tiket gratis nonton #KularikePantai, yuk marilah kita berusaha menulis demi gratisan, hahahaha.

Di postingan kali ini mau cerita pengalaman pribadi sesuai tema #modyarhood: Konflik Anak di Keluarga Besar, yang mirip-mirip dikit nih sama kondisinya Mba Puty. Saya sendiri bersaudara kandung hanya bertiga. Namun Ayah saya anak pertama dari 10 bersaudara, dan Ibu saya anak ke-8 dari 11 bersaudara. Jumlah sepupu dari pihak Ayah saya sih ga banyak ya, hanya tujuh. Dan karena usianya nggak sepantaran dan beda kota, jatohnya kurang deket juga satu sama lain. Tapiiii, sepupu dari Ibu saya nih yang banyak banget. Total cucu nenek saya itu ada 33 orang! Dan dari 33 orang cucu itu bahkan sudah memperluas keturunan dengan menghasilkan 39 cicit. Banyak banget kan, hahaha. Makanya selalu seneng kalau halal bi halal, karena bisa ketemu sama hampir semua keluarga besar itu, walaupun hanya setahun sekali.

Screenshot_2018-05-31-13-04-24_1

Foto keluarga besar dari pihak Ibu saya, saat Halal Bi Halal tahun 2015 (dan ini belom semuanya!)

Dari 33 orang per-sepupu-an, tentu nggak semuanya sepantaran sama saya. ada sekitar 5 orang termasuk saya yang usianya seumuran. Dulu waktu kecil, usia nggak beda jauh ini yang bikin konflik muncul, hahahaha. Saya inget banget tradisi di keluarga kami saat kumpul lebaran, para anak-anak akan ngantri berbaris mengular buat ngambil angpau dari para Ua dan Bibi (Om/Tante) yang sudah berjejer rapi duduk siap dengan uang pecahan kecil. Entah mengapa, walau ngantri ngambil duit nya sama, pas pada ngitung penghasilan, suka ada aja perbedaan jumlah uang yang diterima masing-masing anak, hahaha.

Belom lagi dulu suka ada yang jealous ga terima sepupu saya puasa nya ga tamat, harusnya ga dikasih uang segitu dong? Sepele banget ya, hahaha. Tapi dulu tuh rasanya masalah besar banget! Sirik-sirikan pasti kejadian deh abis kayak gitu. Bakal ada yang frontal langsung ngomong “Ua, si X nggak tamat loh puasanya! Nggak usah dikasih full uangnya”. Salah satunya tentu saya yang frontal, ga terima ketidakadilan yang telah terjadi, hahahaha. Tapi ujung-ujungnya berakhir damai sih, lupa juga dulu gimana caranya biar damai.

Sejujurnya seingat saya ya, kita jarang sih ada konflik besar antar sepupu, palingan hanya iri-irian hasil angpau aja kayak gitu, hahahah. Karena ketemunya jarang kali ya, sekalinya ketemu ya malah seneng ada temen main bareng. Jaman dulu di kampung nenek saya yang sering saya inget main di balong (kolam) belakang rumah, main di sawah, main masak-masakan pake segala taneman nenek saya termasuk daun mangkok dan tanaman mie-mie-an yang warna kuning. Dan keeratan persepupuan ini alhamdulillah sampe gede masih bertahan. Kebetulan pas usia kuliah kita jadi sekota semua, di Bandung. Frekuensi ketemu juga jadi semakin sering hampir tiap minggu. Nah kalau udah ketemu pasti ga luput dari curhat-curhatan tentang pacar, tentu saja, hahaha. Jadi kayak punya saudara kandung nambah deh, karena emang deket.

Punya keluarga besar tuh buat saya menyenangkan banget, karena memori yang tertanam juga hal-hal yang menyenangkan. Kadang-kadang suka sayang juga, karena anak saya nggak akan ngalamin hal yang sama. Saat ini anak saya hanya punya 3 sepupu dari keluarga suami, dan 2 sepupu dari keluarga saya. Mudah-mudahan walaupun ga banyak sepupunya dari segi jumlah, dan pasti pengalaman bersepupunya juga berbeda, anak saya bisa tetep deket sama sepupunya yaa. Amin.

Eh tapi nih yaaa, konflik antar sepupu anak saya juga ada loh, jangan salah. Kalau mereka konfliknya seperti apa? Baca postingan berikutnya ya, niat banget nih bikin dua postingan biar kesempatan menangin tiket gratis lebih besar. Hahahaha. Okedeh, sampai bertemu di postingan lanjutan yaa. Bye!

 

 

 

2017 KDRAMA RECAP AND RATING

Happy New Year! Udah tahun 2018 yaaa. Kerasa nggak kerasa sih, hahahaha. Anyway, di tahun 2017 kemaren, muncul kembali dua hobi lama, thanks to (or blame to?) kembaran sayah. Dua hobi yang intensss dikerjain tahun kemaren adalah nontonin Korean Drama (Kdrama), dan nontonin pertandingan badminton.

Kalo nontonin badminton ini hobi yang sudah terkubur banget sih dari dulu. Saya sama kembaran emang hobi nonton olah raga. Nonton doang yaaaa, hahahaha. Dari dulu masih sekolah, suka nontonin sepak bola (Liga Italia, Liga Inggris, Liga Champion), F1, MotoGP, dan event-event badminton yang ditayangin di televisi. Bahkan pernah nonton Thomas Cup live di Istora. Dan akhirnya tahun ini, jadi hobi lagi nontonin pertandingan badminton. Hobi yang muncul lagi ini tentunya nggak terlepas dari faktor melejitnya prestasi ganda putra Indonesia kebanggaan, Minions, dan akses untuk menonton yang lebih mudah mulai dari KompasTV yang tayangin seluruh rangkaian Super Series, maupun akses nonton lewat internet.

Tapi kali ini saya mau fokusnya ke hobi nontonin Kdrama. Sekitar tahun 2011 saya sempet nontonin beberapa Kdrama, karena punya tetangga cubicle di kantor yang suka kdrama juga. Tapi abis si tetangga resign, berhenti nontonin karena ga ada yang supply donlodan, hahahaha.

Terus di tahun 2016 juga tentunya nontonin DoTS yang tersohor itu dong ya. Tapi baru bener-bener tahun ini, di mana saya bener-bener intenssssss nontonin Kdrama. Abis selese nonton satu drama, langsung nyari judul drama yang lain. Dan, setelah didata, ternyata saya udah nonton 18 drama dalam setahun! Artinya rata-rata 1,5 drama per bulan. Walaupuuuuunn masih kalah jauh dari jumlah drama yang ditonton sodara saya, hahahaha. Ini nih judul kdrama yang saya tonton selama tahun 2017, dengan urutan penilaian ala-ala reviewer kdrama, hahahaha:

  1. Reply 1888 (10/10)
  2. Because This is My First Life (10/10)
  3. Weightlifting Fairy Kim Bok Jo (9.5/10)
  4. Goblin (9/10)
  5. Tomorrow with you (9/10)
  6. Page Turner (9/10)
  7. Uncontrolably Fond (9/10)
  8. While You Were Sleeping (9/10)
  9. Lucky Romance (9/10)
  10. Something About 1% (9/10)
  11. Splash Splash Love (8.5/10)
  12. Another Oh Hae Young (8/10)
  13. Fight For My Way (8/10)
  14. Moonlight Drawn by Clouds (8/10)
  15. Cinderella and four knights (8/10)
  16. My Love from the Star (7/10)
  17. Witch Romance (6/10)
  18. Pinocchio – Dropped

Yak, demikian daftar singkat tontonan Kdrama saya setahun iniii. Kalau ada niat dan keinginan, mungkin mau bikin post tersendiri untuk beberapa judul yang sangat meninggalkan jejak di hati. Till my next post 😉